SPONSORED

Red Bull Pertanyakan Penilaian Mesin FIA

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Red Bull Pertanyakan Penilaian Mesin FIA TO NEWS OVERVIEW
© XPBimages

Formula 1, Sportrik Media - Red Bull Racing meminta pembicaraan lebih mendalam dengan FIA setelah mesin pembakaran internalnya disebut dinilai sebagai yang terkuat dalam evaluasi awal sistem ADUO Formula 1 2026. Tim Milton Keynes mempertanyakan dasar penilaian tersebut karena data internalnya tidak menunjukkan keunggulan konsisten terhadap Mercedes.

ADUO, atau Additional Development and Upgrade Opportunities, diperkenalkan untuk membantu pabrikan mesin yang tertinggal mempercepat pengembangan selama era regulasi baru. Sistem tersebut menilai performa bagian internal combustion engine, bukan keseluruhan power unit yang juga mencakup sistem elektrik, penyimpanan energi, serta strategi deployment.

Evaluasi pertama dilakukan menggunakan data lima putaran pembuka musim. FIA belum mengumumkan hasilnya kepada publik karena metodologi pengukuran masih ditinjau untuk memastikan perbandingan antarpabrikan dilakukan secara akurat. Namun, sejumlah pembalap dan pejabat senior tim menyebut mesin Red Bull berada pada posisi teratas dalam penilaian sementara.

Red Bull Questions FIA Engine Assessment
Read AlsoRed Bull Questions FIA Engine Assessment

Apabila status tersebut dipertahankan, Red Bull tidak akan memperoleh kesempatan peningkatan tambahan melalui ADUO pada periode terkait. Pabrikan yang berada di bawah batas performa yang ditentukan sebaliknya dapat memperoleh kelonggaran berupa perubahan spesifikasi, tambahan waktu pengujian dyno, serta ruang pengembangan yang lebih besar.

ADVERTISEMENT

Kepala tim Laurent Mekies menegaskan Red Bull tidak mempermasalahkan prinsip regulasinya. Tim telah menyetujui bahwa penilaian harus berfokus pada tenaga mesin pembakaran internal dan menerima tujuan sistem untuk mencegah satu pabrikan tertinggal terlalu jauh pada awal siklus regulasi.

“Kami sepenuhnya menerima bahwa regulasi menyatakan penilaian hanya mencoba memperkirakan urutan performa tenaga ICE. Kami semua telah menyetujuinya dan tidak menganggap prinsip itu sebagai masalah,” kata Mekies.

Keberatan Red Bull terletak pada kesimpulan bahwa mesinnya memiliki keunggulan. Menurut Mekies, tim belum menemukan satu sampel data pun yang menunjukkan tenaga ICE Red Bull berada secara konsisten di atas Mercedes. Perbedaan tersebut penting karena keputusan ADUO dapat memengaruhi kemampuan pengembangan mesin sepanjang sisa musim.

ADVERTISEMENT

“Hal yang ingin kami diskusikan lebih dalam adalah kami tidak melihat satu pun sampel data yang mengindikasikan bahwa kami memiliki keunggulan atas rekan-rekan kami di Mercedes,” ujar Mekies.

Red Bull menggunakan perubahan performa pada tiga karakter sirkuit sebagai dasar argumennya. Pada Grand Prix Kanada, yang memiliki lintasan lurus panjang dan tingkat sensitivitas tinggi terhadap tenaga mesin, mobil tim hanya mampu menempati posisi keenam dalam kualifikasi. Hasil serupa kembali terjadi di Barcelona, yang juga menempatkan tuntutan besar pada tenaga dan efisiensi power unit.

Sebaliknya, Red Bull lebih kompetitif di Monaco, sirkuit yang memberi pengaruh lebih kecil terhadap tenaga ICE karena didominasi tikungan lambat dan tidak memiliki lintasan lurus panjang. Tim berada sekitar empat per seratus detik dari pole position, memperlihatkan bahwa performa membaik ketika kontribusi tenaga mesin terhadap waktu putaran berkurang.

ADVERTISEMENT

“Anda pergi ke Kanada, dengan sensitivitas tenaga ICE yang tinggi, dan kami lolos keenam. Anda pergi ke Monaco, dengan sensitivitas rendah, dan kami berada sekitar empat per seratus detik dari pole. Kemudian di Barcelona, sensitivitasnya kembali tinggi dan kami kembali lolos keenam,” jelas Mekies.

Perbandingan tersebut tidak secara otomatis membuktikan Red Bull memiliki mesin lebih lemah. Waktu putaran juga ditentukan oleh tingkat drag, efisiensi aerodinamika, bobot mobil, distribusi energi elektrik, traksi, dan karakter setup. Namun, Mekies menilai pola performa antarsirkuit tidak mendukung kesimpulan bahwa ICE Red Bull menjadi tolok ukur utama.

Masalah metodologi menjadi pusat perdebatan karena FIA harus memisahkan kontribusi tenaga mesin dari variabel mobil lain. Data GPS, akselerasi, kecepatan di lintasan lurus, tingkat drag, dan deployment elektrik perlu dianalisis secara bersamaan untuk memperkirakan tenaga ICE yang sebenarnya. Kesalahan kecil dalam memperkirakan hambatan aerodinamika atau penggunaan energi dapat memengaruhi urutan performa.

ADVERTISEMENT

“Anda memerlukan tingkat kepastian yang sangat tinggi dalam menilai urutan ICE sebelum menyatakan satu tim sebagai pihak dominan dan memberikan kesempatan pengembangan kepada tim yang mengejarnya,” kata Mekies.

Red Bull juga memiliki kepentingan besar dalam keputusan tersebut karena musim 2026 menjadi tahun pertama proyek power unit internalnya. Tim masih menghadapi persoalan reliabilitas dan performa mobil, sementara peluang untuk meningkatkan ICE melalui ADUO dapat memengaruhi kemampuannya mengejar Mercedes serta Ferrari pada fase berikutnya.

Pembicaraan dengan FIA karena itu tidak hanya berkaitan dengan status simbolis sebagai mesin terkuat. Penilaian tersebut menentukan akses terhadap sumber daya pengembangan tambahan yang dapat mengubah keseimbangan kompetitif. FIA kini harus memastikan metodologinya cukup kuat sebelum menetapkan pabrikan mana yang berhak memperoleh kesempatan upgrade.

ADVERTISEMENT

Red Bull akan membawa argumen teknis dan pola performa lintasannya dalam pembicaraan tersebut. Sampai FIA menyelesaikan peninjauan dan menerbitkan keputusan, status mesin Red Bull sebagai acuan ADUO belum dapat diperlakukan sebagai hasil resmi. Kejelasan dari regulator akan menjadi penting menjelang Grand Prix Austria, ketika Red Bull kembali menghadapi sirkuit dengan tuntutan tenaga dan akselerasi tinggi.

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU