Pembalap utama tim Pramac Racing, Toprak Razgatlioglu, mengekspresikan kekecewaan analitis yang mendalam meski sukses mencetak hasil finis terbaik sepanjang karier kelas premiernya pada Grand Prix Hongaria 2026. Juara dunia WorldSBK tiga kali tersebut melintasi garis finis di urutan ke-11 di Sirkuit Balaton Park setelah memulai balapan dari posisi start ke-18. Kendati mencatatkan kurva pemulihan posisi yang impresif, Razgatlioglu secara terbuka menyesali kesalahan taktis departemen keinsinyurannya dalam memodifikasi sistem pengereman elektronik sasis Yamaha V4 tepat sebelum balapan dimulai.
Dinamika performa murni Razgatlioglu sejatinya terpantau sangat kompetitif sepanjang akhir pekan balap di Hongaria, di mana ia sukses merangkak naik ke posisi 13 saat sesi Sprint Race. Memasuki balapan utama hari Minggu, peluang untuk mengamankan posisi sepuluh besar terbuka lebar setelah insiden tabrakan massal dipicu oleh sasis Aprilia milik Jorge Martin mengeliminasi beberapa pembalap top di Tikungan 1. Namun, keputusan mekanis radikal yang dieksekusi Razgatlioglu saat melakoni *sighting lap* justru menjadi bumerang yang merusak stabilitas rotasi motornya pada setiap zona pengereman berat.

Berdasarkan data telemetri kualifikasi, Razgatlioglu didera masalah penguncian roda belakang yang parah (*rear wheel locking*) yang mengancam ketahanan operasional ban Michelin. Guna memitigasi risiko penurunan performa ban secara prematur, tim memutuskan untuk mereduksi tingkat kekuatan *engine brake*. Sayangnya, modifikasi perangkat lunak tersebut justru memicu anomali baru di Tikungan 5 sirkuit, di mana hilangnya efek deselerasi mesin membuat buritan motor justru memberikan gaya dorong berlebih (*rear pushing*) yang membebani suspensi depan secara asimetris.

"Kami secara jelas melakukan kesalahan fatal. Saat balapan berlangsung, khususnya di Tikungan 5, saya sama sekali tidak merasakan fungsi dari rem mesin. Saya justru merasakan roda belakang terus mendorong sasis ke depan, membuat saya kehilangan cengkeraman roda depan (*lose the front*), dan memaksa saya melakukan rentetan kesalahan kemudi di tikungan spesifik tersebut," ungkap Razgatlioglu menjabarkan analisis teknis sasisnya kepada jurnalis *paddock* pasca-balapan.
Selain kendala pada sistem pengereman elektronik, sasis Yamaha V4 milik Pramac juga memperlihatkan inefisiensi performa yang masif pada sektor lintasan lurus (*straight*). Razgatlioglu mendeteksi kelemahan kecepatan puncak (*top speed*) yang membuatnya selalu kehilangan waktu delta signifikan setiap kali mencoba melancarkan slipstream terhadap sasis KTM andalan Jack Miller. Meskipun ia mampu memangkas jarak linear kembali berkat keunggulan kecepatan tengah tikungan (*corner speed*) di sektor kedua dan ketiga, rigiditas sasis saat dipaksa bertarung dalam kelompok balap menyulitkan eksekusi manuver menyalip secara bersih murni.
Potensi tersembunyi dari sasis Yamaha V4 sebenarnya terbukti sangat masif pada fase akhir balapan berdurasi penuh tersebut, di mana Razgatlioglu sukses mencetak waktu putaran fantastis 1 menit 39,6 detik pada lap terakhir saat ia mendapatkan koridor udara bersih (*clean air*). Metrik kecepatan murni ini setara dengan ritme pembalap barisan depan seperti Iker Lecuona, sementara sebagian besar pembalap lain di grup tengah sudah merosot ke kisaran waktu 1 menit 40 detik akibat degradasi ban belakang. Hasil kualifikasi dan evaluasi data termal ban ini akan menjadi prioritas bagi kru mekanik Pramac untuk merestrukturisasi peta distribusi bobot sasis menjelang seri berikutnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!