Eskalasi perdebatan mengenai regulasi keselamatan kerja perangkat mekanis kelas premier kembali mencuat setelah insiden tabrakan massal di Sirkuit Balaton Park. CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, memberikan pandangan taktisnya dengan menegaskan bahwa melakukan reaksi berlebihan (*overreacting*) untuk melarang penggunaan perangkat pengatur ketinggian sasis (*ride height device*) secara mendadak merupakan sebuah langkah keinsinyuran yang keliru. Sikap kehati-hatian ini diambil meskipun tiga armada sasis RS-GP miliknya hancur secara simultan pada lap pembuka Grand Prix Hongaria 2026 akibat kegagalan pengereman yang dipicu oleh Jorge Martin.
Kecelakaan karambol di Tikungan 1 tersebut menjadi pemicu utama bagi beberapa pembalap, termasuk Jack Miller dari kubu KTM, untuk menyuarakan kembali desakan penghapusan sistem mekanis dan hidrolik penurun sasis tersebut sebelum tenggat waktu regulasi massal pada musim 2027. Insiden di Hongaria menandai kekacauan start kedua dalam tiga seri terakhir paska-krisis serupa yang melibatkan Johann Zarco di Barcelona. Kondisi ini memaksa komisi keselamatan bersama FIM dan Dorna untuk mempertimbangkan opsi pelarangan perangkat penurun bodi motor pasca-jeda musim panas, di samping opsi modifikasi perluasan jarak antar-posisi grid start.
Kendati secara historis Rivola dikenal sebagai salah satu figur otoritas pabrikan yang paling vokal menentang proliferasi gawai mekanis berlebih, ia menolak kalkulasi gegabah tanpa pengujian telemetri murni yang komprehensif. "Kami sedang berdiskusi secara intensif dengan manajemen MotoGP untuk memetakan parameter apa saja yang valid untuk meningkatkan aspek keselamatan. Semua orang tahu sikap historis saya yang menolak perangkat semacam ini, namun saya tidak suka mengambil keputusan berdasarkan reaksi emosional sesaat," ungkap Rivola membedah analisis keselamatan sasisnya.

"Saya menilai segala sesuatunya harus dieksekusi secara terstruktur dan benar melalui pengujian berkala tanpa perangkat tersebut terlebih dahulu. Jika sebelum balapan kita melarang penggunaan perangkat depan (*front device*) lalu insiden tabrakan serupa tetap terjadi, maka opini publik akan berbalik dan mengklaim bahwa perangkat tersebut justru jauh lebih aman. Mereduksi tingkat kepadatan motor di tikungan pertama mungkin bisa menjadi solusi alternatif yang membantu, tetapi bertindak impulsif adalah kesalahan fatal yang paling mudah kita lakukan," tambah Rivola menjabarkan manajemen risiko teknis sasisnya.
Di balik pembelaan regulasi mekanis tersebut, Rivola secara tegas menjatuhkan vonis kesalahan operasional kepada Martin atas hancurnya peluang poin murni dari pemuncak klasemen sementara, Marco Bezzecchi, serta pembalap Trackhouse Racing, Raul Fernandez. Rivola mengklasifikasikan kecerobohan Martin di zona deselerasi berat tersebut sebagai sebuah kekeliruan fundamental yang seharusnya tidak dieksekusi oleh seorang pembalap berstatus juara dunia. Atas pelanggaran disiplin balap tersebut, panel pengawas FIM telah resmi menjatuhkan sanksi penalti dua kali putaran panjang (*double long lap penalty*) yang wajib dijalani Martin pada seri Republik Ceko mendatang.
Rivola juga mematahkan spekulasi yang menyatakan bahwa tingginya tingkat kesulitan manuver menyalip akibat hambatan aerodinamika motor modern menjadi motif utama yang memaksa Martin bertindak nekat sejak putaran pembuka. Menurutnya, sasis RS-GP tetap memiliki fleksibilitas menikung yang mumpuni untuk melakukan kompensasi posisi tanpa harus memaksakan ruang pengereman yang sempit di awal laga. Rivola menunjuk keberhasilan integrasi gaya berkendara pembalap satelit mereka, Ai Ogura, yang secara konsisten mampu mengeksekusi manuver melewati sepuluh pembalap di setiap seri sebagai bukti empiris bahwa paket aerodinamika Aprilia tidak membatasi kemampuan menyerang pembalap.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!