Aksi luar biasa diperlihatkan oleh Jorge Martin pada sesi latihan hari pembuka di Sirkuit Lusail akhir pekan ini. Pembalap andalan skuad pabrikan Aprilia Racing tersebut sukses mengamankan posisi ketujuh secara impresif di sesi Practice. Hasil positif ini langsung memicu suntikan motivasi tinggi bagi sang juara dunia setelah melalui fase pemulihan cedera yang sangat melelahkan dalam beberapa pekan terakhir akibat insiden nahas di seri sebelumnya.
Meski mampu menembus sepuluh besar dan langsung mengamankan tiket penting, pembalap asal Spanyol berjuluk Martinator itu sama sekali tidak menutupi realitas pahit di balik performa heroiknya di atas lintasan. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari kolaborator paddock, ia mengakui bahwa kondisi fisik utamanya di bagian pergelangan tangan kanan belum sepenuhnya pulih dari retak tulang yang dialaminya saat balapan di Australia.
Rasa sakit yang hebat ternyata masih konsisten menghantam setiap kali ia harus mengerem secara ekstrem atau merebahkan motor dengan sudut kemiringan tinggi khas gaya balapnya. Walau demikian, kapasitas mental baja yang ia miliki membuktikan bahwa batas rasa sakit dapat dikompromikan demi mendulang poin krusial dalam perburuan gelar juara dunia musim ini yang semakin sengit.

"Saya merasa baik, saya merasa jauh lebih baik sekarang. Jujur saja, saya sangat berharap bisa merasakan sensasi membaik ini sejak berada di Malaysia, karena tentu jalannya cerita akan berbeda, namun inilah kenyataannya," ungkap Jorge Martin ketika mengulas perjuangan beratnya di hadapan para awak media.
Lebih lanjut, pembalap bernomor start #89 tersebut menjelaskan bahwa titik terberat yang harus ia hadapi sepanjang sesi latihan adalah ketika melakukan simulasi time attack satu putaran penuh. Pada momen krusial tersebut, beban pengereman mendadak memaksa tangan kanannya bekerja di luar batas toleransi rasa nyeri, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam mengontrol tenaga stang motor agar tidak terjadi kesalahan fatal.
"Saya bisa melakukan beberapa putaran secara beruntun dengan ritme yang terjaga. Mungkin saat melakukan serangan waktu cepat adalah momen dengan sensasi paling buruk, karena di situlah saya merasakan nyeri paling hebat ketika harus menekan motor hingga batas maksimalnya," imbuhnya.
Kendati masalah utama terletak pada hilangnya sebagian kekuatan otot dan cengkeraman tangan akibat masa istirahat yang minim, ritme balap jarak jauh justru tidak terlalu memicu lonjakan rasa sakit yang tak tertahankan. Tantangan terbesar kini bergeser pada bagaimana tim mekanik Aprilia Racing mampu melakukan penyesuaian ergonomi setang motor agar ia bisa bernavigasi lebih efisien.
"Dalam hal kecepatan balap, saya tidak merasakan banyak nyeri yang mengganggu. Yang menjadi batasan utama adalah gaya berkendara saya dan posisi tubuh ekstrem di atas motor. Semuanya memang terasa sedikit lebih lambat dari biasanya, tetapi saya yakin kita bisa mengelola jalannya balapan utama nanti dengan baik meskipun rasa sakit itu masih tetap ada," tutupnya penuh determinasi.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!