Toni Vilander, Ketua organisasi payung olahraga otomotif Finlandia AKK, memberikan penilaian kritis terhadap arah dan popularitas Kejuaraan Reli Dunia FIA (WRC) di Finlandia, menyusul keputusan Kalle Rovanperä untuk meninggalkan kejuaraan tersebut demi mengejar karier di jalur single-seater.
Meski lebih dikenal sebagai figur balap sirkuit dan Formula 1, Vilander menegaskan dirinya adalah penggemar reli yang aktif mengikuti dinamika WRC. Ia menilai kepergian Rovanperä—ikon domestik terbesar reli Finlandia—menjadi momen reflektif bagi olahraga tersebut, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga secara global.
“Saya yakin FIA telah tersadar dan memahami bahwa sesuatu perlu dilakukan,” kata Vilander.
Vilander menyoroti tantangan struktural WRC sebagai produk global yang sulit diakses penggemar kasual. Menurutnya, format reli modern menuntut komitmen waktu yang besar dari penonton, yang kerap harus menyesuaikan jadwal pribadi hanya untuk mengikuti perkembangan etape secara langsung, sementara mayoritas akhirnya hanya mengonsumsi rangkuman.
“Sebagai fenomena internasional, tantangannya justru pada kemudahan untuk mengikutinya. Anda hampir selalu harus memasang alarm di ponsel untuk mengikuti akhir pekan reli. Bagi banyak orang, itu berarti hanya menonton rangkuman,” jelasnya.
Di sisi lain, Vilander juga menyinggung persoalan keberlanjutan pabrikan. Dengan hanya Toyota Gazoo Racing dan Hyundai Motorsport sebagai tim pabrikan penuh, ia menilai fondasi WRC terlalu sempit untuk jangka panjang.
“Kita jelas membutuhkan lebih banyak merek mobil dan fokus yang lebih luas,” tegas Vilander.
Kekhawatiran Vilander semakin dalam ketika melihat tren pembalap papan atas yang mulai mengurangi komitmen penuh. Selain keputusan Rovanperä, Sébastien Ogier telah lama berstatus paruh waktu, sementara juara dunia 2019 Ott Tänak sempat memilih menjauh dari kejuaraan.
“Dari sudut pandang pembalap, saya cukup khawatir para pembalap di puncak olahraga ini pada akhirnya memilih menjadi paruh waktu, atau bahkan pindah format kompetisi sama sekali,” ujar Vilander.
Ia mempertanyakan apakah tuntutan kerja modern—mulai dari pencatatan rute, analisis video tanpa henti, hingga beban persiapan non-balap—telah melampaui batas kewajaran, terutama ketika keputusan teknis sering diambil tanpa keterlibatan langsung pembalap.
“Apakah beban pekerjaan itu sudah terlalu besar? Para pengambil keputusan tidak ikut berlomba, dan di situlah perbedaan sudut pandang muncul,” tambahnya.
Vilander juga menyoroti jarangnya suara pembalap dan tim didengar dalam pengembangan teknis mobil. Berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menilai kesenangan mengemudi adalah faktor fundamental yang tak bisa digantikan oleh insentif finansial.
“Jika mobil tidak menyenangkan untuk dikendarai—karena bobot, ban, mesin, tenaga, atau aerodinamika—bahkan gaji yang bagus pun tidak akan membantu. Anda mengemudi hampir sepanjang tahun dan merasa mobil lima tahun lalu justru lebih cepat,” paparnya.
Menurut Vilander, keputusan strategis dalam motorsport seharusnya mempertimbangkan aspirasi pembalap bintang, meski ia mengakui bahwa sejarah menunjukkan hal tersebut jarang terjadi karena benturan dengan kepentingan komersial.
“Keputusan yang tepat harus mempertimbangkan keinginan pembalap dan bintangnya. Itu jarang terjadi, karena solusi komersial sering bertentangan dengan perasaan mereka,” katanya.
Meski demikian, Vilander menutup dengan nada realistis terhadap kompleksitas posisi regulator.
“Ini situasi yang sangat sulit. Apa solusi yang tepat, dan apakah kompromi itu mungkin? Tidak ada jawaban mudah,” tutup Vilander.
Pernyataan Vilander menegaskan bahwa tantangan WRC pasca-Rovanperä bukan sekadar soal bintang yang pergi, melainkan tentang keseimbangan antara format kompetisi, keterlibatan pembalap, dan daya tarik jangka panjang olahraga di tengah perubahan lanskap motorsport global.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!