WRC, Sportrik Media - Thierry Neuville menilai Rally Monte Carlo 2026 menjadi salah satu akhir pekan tersulit dalam kariernya di World Rally Championship, setelah ia gagal menemukan feeling yang dibutuhkan untuk tampil kompetitif bersama Hyundai.
Dua pekan sebelum reli pembuka musim, Neuville telah memprediksi bahwa performanya akan sangat bergantung pada rasa percaya diri di balik kemudi. Kenyataannya, prediksi tersebut terbukti akurat, namun dengan konsekuensi yang pahit. Sang juara dunia 2024 itu kesulitan menikmati reli dan tidak pernah benar-benar mengancam posisi teratas catatan waktu.
Secara kasat mata, performa Hyundai di lintasan tarmac kembali menjadi sorotan. Rekan setimnya, Adrien Fourmaux, memang memenangkan dua special stage, namun Toyota mendominasi dengan 13 kemenangan etape, mencerminkan kesenjangan performa yang signifikan di Monte Carlo.

Neuville finis lebih dari 10 menit di belakang pemenang reli, sebuah hasil yang menegaskan bahwa Hyundai masih tertinggal di atas aspal. Namun, menurut Neuville, permasalahan yang ia alami jauh lebih dalam daripada sekadar kecepatan mobil.
Performa mobil jelas bukan yang terbaik, itu sudah pasti dan itu terkonfirmasi.
Namun, ia menekankan bahwa isu utama justru terletak pada ketidakmampuannya membangun rasa percaya diri untuk menyerang, sebuah faktor krusial dalam reli dengan karakter ekstrem seperti Monte Carlo.
Kekhawatiran terbesar saya akhir pekan ini bukan soal performa mobil,
tetapi tidak mendapatkan feeling yang baik untuk bisa mengemudi dengan cepat dan menyerang.
Kami menahan diri dan mencoba untuk tidak membuat kesalahan,
dan tetap saja kami melakukan kesalahan.
Itu jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan performa mobil saat ini.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Neuville juga tidak menjalani musim 2025 yang sepenuhnya mulus. Meski beberapa kendala berada di luar kendalinya, kesalahan pribadi turut berkontribusi, termasuk momen-momen di Rally Japan ketika ia terlihat enggan menekan batas karena ketidaknyamanan di dalam mobil.
Neuville mengakui bahwa Monte Carlo edisi 2026 menghadirkan kondisi paling sulit yang pernah ia hadapi. Permukaan lintasan yang ekstrem bahkan menjebak pemimpin reli Oliver Solberg. Namun, di beberapa fase akhir pekan, Neuville merasa lebih seperti penumpang ketimbang pengendara yang mengendalikan mobil.
Meski demikian, terdapat sisi positif bagi pembalap Belgia tersebut. Ia menegaskan bahwa masalah yang dihadapi bersifat spesifik pada permukaan lintasan. Neuville tercatat memenangi reli terakhir WRC di permukaan loose surface, yakni Rally Saudi Arabia, dan optimistis bisa kembali kompetitif di Rally Sweden.
Swedia berbeda.
Tahun lalu kami memiliki kecepatan yang bagus di Swedia.
Saya tidak terlalu khawatir soal itu.
Yang menjadi masalah adalah reli-reli tarmac.
Saya tidak mendapatkan feeling yang baik sama sekali.
Saya mencoba menyesuaikan gaya mengemudi, tetapi itu tidak benar-benar berhasil.
Ke depan, kalender WRC masih menyisakan dua ajang tarmac penting dalam waktu dekat, yakni Rally Croatia pada 9–12 April, disusul Rally Islas Canarias pada 23–26 April. Kedua reli tersebut akan menjadi tolok ukur apakah Hyundai dan Neuville mampu menemukan solusi atas kelemahan yang kembali terungkap di Monte Carlo.
Jelas, saya pikir kami akan jauh lebih percaya diri saat menuju Swedia
dibandingkan dengan perasaan saya sepanjang akhir pekan ini di Monte Carlo.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!