WRC, Sportrik Media - Oliver Solberg bersama Toyota Gazoo Racing memasuki Rally Monte Carlo 2026 sebagai salah satu sorotan utama, menandai kembalinya pereli Swedia itu ke kelas tertinggi Kejuaraan Reli Dunia FIA setelah proses pematangan panjang di WRC2.
Kembalinya Solberg ke kategori Rally1 bukan sekadar kelanjutan karier, melainkan hasil evaluasi strategis terhadap kesiapan teknis dan konsistensi performa. Debutnya yang terlalu dini bersama Hyundai Motorsport pada 2021 menjadi pelajaran krusial, sebelum ia membangun ulang reputasinya melalui dominasi penuh di WRC2 musim lalu. Gelar tersebut diperkuat dengan kemenangan klasifikasi umum di Rally Estonia menggunakan Toyota GR Yaris Rally1, menegaskan kemampuannya beradaptasi dengan regulasi teknis era hybrid.
Pendekatan Solberg menuju Monte Carlo menunjukkan keseimbangan antara ambisi pribadi dan manajemen risiko. Ia menempatkan tekanan internal sebagai pemicu performa, namun menahan diri dari target hasil spesifik. Dalam reli dengan karakter unik seperti Monte Carlo—menggabungkan aspal kering, lembap, hingga es—strategi pemilihan ban dan jendela setup menjadi faktor penentu. Toyota memprioritaskan stabilitas pengaturan suspensi dan diferensial guna menjaga konsistensi grip, sekaligus menghindari kesalahan pembacaan kondisi lintasan yang kerap merugikan pereli muda di kelas utama.
“Saya selalu memberi tekanan besar pada diri sendiri, jadi target saya selalu tinggi. Tetapi saya tidak memiliki ekspektasi hasil yang jelas. Saya hanya ingin menjalankan pekerjaan saya 110 persen dan melihat ke mana hasilnya membawa saya,” ujar Solberg.
Transisi dari gravel ke tarmac menjadi tantangan teknis paling signifikan bagi Solberg. Meski sudah memahami karakter mobil di permukaan tanah, Monte Carlo menuntut sensitivitas lebih tinggi terhadap manajemen temperatur ban dan respons suspensi pada aspal dingin. Dalam konteks persaingan, ia akan langsung berhadapan dengan pereli berpengalaman seperti Sébastien Ogier, Kalle Rovanperä, dan Elfyn Evans, yang memiliki referensi panjang terhadap dinamika event pembuka musim ini.
“Saya mengenal mobil ini dengan baik di gravel setelah menang di Estonia, tetapi sekarang tarmac membutuhkan lebih banyak pengalaman. Kami menjalani reli uji yang sangat bagus sebelum Natal, dan sekarang fokus kami adalah fine tuning mobil sesuai kebutuhan saya,” jelas Solberg.
Perbedaan karakter antara Rally1 dan Rally2, khususnya di aspal, juga berdampak langsung pada pendekatan mengemudi. Kecepatan masuk tikungan yang lebih tinggi dan peningkatan downforce aerodinamis memperbesar tuntutan presisi, namun sekaligus meningkatkan kepercayaan diri. Dari sudut pandang kejuaraan, hasil solid di Monte Carlo akan berpengaruh langsung terhadap dinamika klasemen awal, terutama jika rival utama terjebak dalam kesalahan strategi ban.
“Sensasinya luar biasa, terutama di tarmac. Perbedaan antara Rally1 dan Rally2 sangat besar. Anda bisa membawa kecepatan jauh lebih tinggi dan itu memberi saya senyum besar,” tambahnya.
Secara jangka menengah hingga panjang, musim 2026 diposisikan sebagai fase konsolidasi. Toyota tidak menempatkan Solberg di bawah tekanan target gelar instan, melainkan menilai konsistensi dan manajemen risiko sebagai tolok ukur utama. Setiap kilometer Rally1 diperlakukan sebagai investasi strategis untuk membangun fondasi menuju ambisi jangka panjang di level tertinggi WRC.
“Saya merasa berada di puncak dunia. Ini perasaan yang luar biasa. Mimpi ini dimulai dan telah menjadi kenyataan. Menjadi bagian dari merek dengan sejarah reli yang begitu besar adalah alasan saya berada di sini,” tutup Solberg.
Dengan Rally Monte Carlo sebagai ujian pembuka, performa Solberg akan langsung berdampak pada keseimbangan internal Toyota serta peta persaingan WRC 2026, sebelum kalender berlanjut ke seri berikutnya dengan karakter lintasan yang berbeda.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!