WRC, Sportrik Media - Sami Pajari menjalani akhir pekan yang sangat mengecewakan bersama Toyota Gazoo Racing pada Rally Monte Carlo pembuka musim Kejuaraan Reli Dunia FIA (WRC) 2026, setelah reli yang diharapkan menjadi langkah maju justru berakhir dengan dua kali kecelakaan dan kegagalan finis.
Pajari memulai Monte Carlo dengan optimisme tinggi, menargetkan peningkatan kecepatan dibanding musim lalu, yang merupakan tahun debut penuhnya di kelas Rally1. Namun, reli langsung berubah menjadi mimpi buruk sejak Kamis malam. Permukaan jalan yang membeku membuatnya kehilangan kendali, keluar lintasan, dan menghantam pembatas jembatan. Benturan tersebut merusak bagian kiri belakang mobil, memaksanya mundur lebih awal dari persaingan.

Meski demikian, mobil berhasil diperbaiki di servis dan Pajari kembali turun lintasan pada Jumat. Fokus tim kemudian bergeser dari target hasil ke upaya memaksimalkan pembelajaran teknis di atas aspal musim dingin yang ekstrem. Pajari menilai hari Jumat tetap memberi nilai tambah dari sisi pengalaman, meski kondisi ban dan variasi grip menghadirkan tantangan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
“Setelah Kamis, kami mencoba berbagai hal dan berusaha memaksimalkan apa yang bisa kami dapatkan, juga dari sudut pandang pengujian,” ujar Pajari.
“Kondisinya sangat menantang sepanjang hari, dengan pilihan ban yang sulit. Ada banyak hal yang belum pernah kami alami sebelumnya. Kecepatannya memang membaik, tetapi masih ada banyak ruang untuk berkembang.”
Harapan untuk menutup reli dengan catatan positif kembali pupus pada Sabtu. Pajari kembali keluar lintasan setelah garis balapnya terlalu melebar ke arah gundukan salju. Kecepatan mobil akhirnya terhenti setelah menabrak pohon, menyebabkan kerusakan yang tidak memungkinkan perbaikan dalam waktu yang tersedia. Setelah evaluasi, tim memutuskan untuk menarik Pajari dan co-driver dari reli.
Secara mental, akhir pekan tersebut menjadi salah satu yang paling berat dalam karier Pajari di WRC. Ia mengakui bahwa sejak awal reli, ia kesulitan menemukan ritme dan terus melakukan kesalahan, meski perasaannya sebelum start termasuk yang terbaik sepanjang pengalamannya di Monte Carlo.
“Sebelum reli, perasaan saya sangat bagus, bahkan lebih baik dari sebelumnya di Monte,” kata Pajari.
“Tetapi sejak awal reli semuanya terasa sangat sulit. Saya tidak menemukan kecepatan dan tetap melakukan kesalahan. Akhir pekan yang benar-benar membingungkan.”
Frustrasi tersebut memuncak ketika Pajari menggambarkan betapa beratnya reli ini secara keseluruhan, bukan hanya dari sisi hasil, tetapi dari perasaan di balik kemudi. Ia menilai ini sebagai salah satu reli terburuk yang pernah ia jalani dari sudut pandang pribadi.
“Bahkan rasanya seperti tidak ada harapan. Ketika semuanya tidak berjalan, ya memang tidak berjalan,” lanjutnya.
“Saya rasa saya belum pernah menjalani reli seburuk ini dari sudut pandang saya sendiri. Bukan soal performa, tetapi bagaimana semuanya terasa. Tiba-tiba semuanya menjadi sangat sulit.”
Dengan dua kali kecelakaan dan tanpa hasil berarti, Pajari mengakui tidak banyak hal positif yang bisa dibawa pulang dari Monte Carlo. Namun, ia menegaskan tanggung jawabnya kepada tim dan penggemar, serta tekad untuk segera memperbaiki kelemahan yang terungkap.
“Akhir pekan ini adalah kekecewaan, jelas bukan seperti yang kami targetkan,” tutup Pajari.
“Saya juga minta maaf kepada tim dan para penggemar karena kami tidak berhasil dan saya melakukan kesalahan. Sekarang kami akan fokus pada hal-hal yang perlu ditingkatkan.”
Musim WRC 2026 akan berlanjut dalam tiga pekan ke depan dengan Rally Swedia, reli musim dingin murni yang akan menjadi kesempatan bagi Pajari untuk merespons kegagalan Monte Carlo dan memulai kembali kampanyenya dengan pendekatan yang lebih stabil.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!