Helmut Marko mengungkap bahwa Christian Horner sempat menentang keputusan promosi Max Verstappen ke Red Bull Racing pada awal musim Formula 1 2016. Keputusan tersebut akhirnya menjadi salah satu langkah paling menentukan dalam sejarah modern Formula 1 setelah Verstappen langsung memenangkan debutnya bersama tim utama.
Verstappen dipromosikan hanya empat balapan setelah musim 2016 dimulai untuk menggantikan Daniil Kvyat, yang dikembalikan ke Toro Rosso. Pergantian itu terjadi setelah Kvyat mengalami periode sulit, termasuk insiden tabrakan ganda dengan Sebastian Vettel pada lap pertama Grand Prix Rusia.
Menurut Marko, performa Kvyat sebenarnya masih kompetitif sepanjang 2015 dan bahkan beberapa kali mampu mengimbangi Daniel Ricciardo, terutama dalam kondisi hujan. Namun situasi berubah drastis memasuki 2016 ketika pembalap Rusia tersebut mulai kehilangan kepercayaan diri terhadap mobil dan terus mengeluhkan sistem pengereman sejak tes pramusim.

"Kvyat mengalami dua kecelakaan dalam balapan itu. Tahun sebelumnya dia tampil cukup baik dan terkadang bahkan lebih cepat dari Daniel Ricciardo, terutama saat hujan," ujar Marko kepada De Telegraaf.
"Tetapi pada 2016 dia bukan lagi pembalap yang sama dan mengeluhkan rem sejak hari pertama pengujian. Jelas kami harus melakukan sesuatu," lanjut penasihat Red Bull tersebut.
Dalam proses evaluasi internal, Red Bull akhirnya memilih Verstappen dibanding Carlos Sainz, yang saat itu juga tampil kuat bersama Toro Rosso. Keputusan tersebut langsung menghasilkan dampak besar ketika Verstappen memenangkan Grand Prix Spanyol 2016 pada debutnya bersama Red Bull dan menjadi pemenang termuda dalam sejarah Formula 1 di usia 18 tahun.
Dari sisi teknis dan mentalitas balap, Verstappen saat itu dinilai memiliki kemampuan adaptasi agresif terhadap karakter aerodinamika mobil Red Bull yang terkenal sensitif pada front-end. Gaya pengereman terlambat dan kepercayaan tinggi terhadap grip depan membuat Verstappen cepat menyatu dengan karakter RB12, terutama di sirkuit teknikal.
Marko juga mengungkap bahwa keputusan promosi Verstappen tidak mendapat dukungan penuh dari seluruh manajemen senior Red Bull. Horner disebut merasa Verstappen masih terlalu muda untuk langsung naik ke tim utama hanya setelah empat balapan musim berjalan.
"Christian Horner tidak setuju mempromosikan Max hanya setelah empat balapan pada 2016. Dia menentangnya," kata Marko.
"Banyak rival dan kritik juga menyerang saya dan mengatakan Max masih terlalu muda dan ini adalah langkah berbahaya," tambahnya.
Namun keputusan tersebut akhirnya menjadi fondasi era dominasi Verstappen di Formula 1. Setelah kemenangan debutnya di Barcelona, pembalap Belanda itu berkembang menjadi pusat proyek jangka panjang Red Bull dan kemudian meraih beberapa gelar dunia bersama tim Milton Keynes.
Pernyataan Marko kini kembali menyoroti bagaimana keputusan internal Red Bull pada 2016 menjadi salah satu momen paling krusial dalam pembentukan generasi baru Formula 1 modern. Situasi itu juga memperlihatkan filosofi agresif Red Bull dalam pengembangan talenta muda yang hingga kini masih menjadi identitas utama program pembalap mereka.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!