Oliver Rowland mengakui strategi beberapa pembalap yang sengaja mengorbankan hasil kualifikasi pada Formula E Berlin E-Prix sudah terlalu ekstrem. Pembalap Nissan tersebut sepakat dengan kritik Pascal Wehrlein terkait situasi aneh di Berlin ketika sejumlah pembalap memilih start dari belakang demi menyimpan satu set ban baru untuk balapan.
Pada balapan kedua double-header Berlin, manajemen energi menjadi faktor dominan hingga memengaruhi pendekatan strategi sejak sesi kualifikasi. Beberapa pembalap, termasuk Rowland dan pemenang balapan Mitch Evans, memilih menggunakan ban lama saat kualifikasi agar tetap memiliki ban baru untuk race. Strategi tersebut membuat Rowland hanya start dari posisi ke-18, sementara Evans memulai dari urutan ke-17 sebelum akhirnya menang.
Secara regulasi, pendekatan tersebut sepenuhnya legal. Namun situasi itu memicu perdebatan besar di paddock Formula E menjelang Monaco E-Prix karena banyak pihak menilai format kompetisi menjadi tidak alami. Wehrlein sendiri menyebut pole position yang diraihnya di Berlin sebagai pole “paling tidak membahagiakan” dalam kariernya karena keuntungan start depan justru berubah menjadi kerugian strategis saat balapan.

"Ya, saya cenderung setuju dengannya. Itu bukan cara ideal bagaimana Anda ingin melihat sesi kualifikasi berlangsung," ujar Rowland kepada RacingNews365.
"Tetapi di Formula 1 juga sering ada tim yang mencapai Q3 dan tahu mereka tidak bisa lebih jauh lagi, sehingga mereka tidak menggunakan satu set ban baru. Ini kurang lebih konsep yang sama, hanya saja di Formula E situasinya terjadi sepanjang sesi kualifikasi," lanjutnya.
Dari sisi teknis, karakter balapan Berlin memang membuat efisiensi energi jauh lebih penting dibanding posisi start. Layout Tempelhof yang sangat abrasif memaksa pembalap menjaga temperatur ban dan konsumsi energi secara ekstrem sepanjang race. Dalam kondisi seperti itu, memiliki satu set ban baru pada fase akhir balapan menjadi keuntungan strategis yang jauh lebih besar dibanding memulai balapan dari posisi depan.
Wehrlein, yang menggunakan ban baru untuk merebut pole position, akhirnya menghadapi kerugian besar saat race karena harus memakai ban lama. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana format Formula E saat ini dapat menciptakan konflik antara reward kualifikasi dan strategi balapan.
"Dia membuat lap yang bagus dan pantas mendapatkan pole position, tetapi penghematan energi membuat hasil itu tidak benar-benar terasa sebagai keuntungan. Untungnya dia tetap mendapat tiga poin pole position, jadi secara keseluruhan poin kami sama," kata Rowland.
Selain Jaguar TCS Racing dan Nissan Formula E Team, Porsche juga disebut sempat mendiskusikan strategi serupa sebelum kualifikasi dimulai. Namun pabrikan Jerman tersebut akhirnya memilih tetap mengejar posisi start depan.
Rowland juga menjelaskan bahwa keputusan memulai dari belakang sebenarnya dipandang lebih aman dalam kondisi balapan Berlin yang sangat sensitif terhadap insiden dan manajemen energi. Menurutnya, jika peluang start di barisan depan tidak realistis, memulai dari belakang justru dapat mengurangi risiko kehilangan energi dan kerusakan akibat pertarungan awal race.
Perdebatan mengenai strategi Berlin kini menjadi salah satu topik utama di paddock menjelang Monaco E-Prix. Formula E diperkirakan akan mengevaluasi apakah regulasi penggunaan ban dan format kualifikasi perlu disesuaikan agar reward pole position kembali memiliki dampak kompetitif yang lebih besar pada hasil balapan.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!