Max Verstappen kembali melontarkan kritik pedas terhadap generasi baru mobil Formula 1. Menurutnya, power unit hybrid 2026 telah mengikis tantangan mengemudi hingga level performa tertinggi bisa diraih dengan relatif mudah. Pembalap Red Bull itu bahkan menunjuk langsung penampilan Liam Lawson dan Yuki Tsunoda sebagai bukti nyata.
Sejak awal musim, Verstappen memang vokal menentang regulasi teknis anyar. Ia pernah menyebut mobil-mobil ini sebagai "Formula E on steroids" karena gaya mengemudi yang sangat bergantung pada manajemen energi. "Dalam sejarah olahraga ini, biasanya pembalap yang paling berani, paling telat mengerem, paling awal menginjak gas, dan berani di tikungan cepat akan mendapat imbalan karena Anda mendapatkan waktu di tikungan," ujarnya kepada BBC. "Tapi sekarang Anda terus berpikir, 'Di tikungan ini saya mungkin harus menahan sedikit. Telat menginjak gas. Atau mengerem lebih awal. Atau lepas gas. Lalu saya punya kecepatan puncak lebih.' Hal-hal seperti itu. Sangat tidak alami. Sangat tidak seharusnya."
Verstappen yakin argumennya terbukti lewat performa Lawson dan Tsunoda. Keduanya tampil sebagai pengganti sementara di Red Bull dan Racing Bulls setelah Isack Hadjar mengalami cedera pergelangan tangan selama jeda musim panas. Lawson mencetak hasil gemilang dengan finis ketujuh di Zandvoort, meski kemudian melalui Grand Prix Italia yang lebih sulit. Sementara Tsunoda meraih satu poin di Monza setelah nyaris gagal finis di 10 besar di Belanda.

"Tanpa bermaksud mengecilkan, dan saya harap tidak ada yang salah paham," lanjutnya. "Tapi lihat Yuki. Dia langsung masuk ke mobil. Belum pernah mengendarainya sebelumnya. Langsung kompetitif. Liam melompat dari Racing Bulls ke Red Bull, langsung kompetitif. Itu karena mobil-mobil ini tidak responsif terhadap input pembalap. Tentu, Anda masih harus melakukan putaran yang baik. Dan Anda masih harus berani. Pembalap tercepat akan selalu menang. Tapi itu benar-benar terbatas, seperti dicekik atau semacamnya. Anda tertahan."
Meski demikian, perlu dicatat bahwa Lawson dan Tsunoda selalu kalah cepat dari rekan setim masing-masing di ketiga sesi kualifikasi di Zandvoort dan Monza. Sepanjang sejarah F1, selalu ada contoh pembalap pengganti yang menorehkan hasil impresif. Nico Hulkenberg misalnya, memulai balapan dari posisi ketiga bersama Racing Point di Grand Prix 70th Anniversary 2020. Di musim yang sama, George Russell hampir memenangi putaran kedua Sakhir pada balapan pertamanya bersama Mercedes. Sebelum era hybrid, Sebastian Vettel mencetak poin pada debutnya bersama BMW pada 2007, sementara Robert Kubica hanya butuh tiga balapan untuk naik podium saat menggantikan Jacques Villeneuve di tim yang sama pada 2006. Setahun sebelumnya, Alexander Wurz finis ketiga di Imola dalam satu-satunya balapan musim 2005.
Verstappen sendiri menang pada balapan pertamanya bersama Red Bull di usia 18 tahun. Ia juga menjadi pembalap termuda yang memimpin grand prix dan mencetak lap tercepat. Prestasi-prestasi tersebut menunjukkan bahwa pembalap bertalenta istimewa memang bisa langsung bersinar, terlepas dari regulasi. Namun, kritik Verstappen menyoroti pergeseran filosofi balapan: dari yang semula mengandalkan keberanian dan insting murni, kini menjadi permainan strategi energi yang membuat batas antara pembalap hebat dan biasa semakin tipis.
Mobil generasi 2026 mengandalkan power unit yang lebih sederhana namun dengan proporsi tenaga listrik yang jauh lebih besar. Pembalap harus cerdik mengelola energi sepanjang putaran, seringkali harus mengangkat kaki dari pedal gas lebih awal atau mengerem lebih lambat untuk mengisi baterai. Ini menciptakan gaya mengemudi yang tidak alami dan mengurangi sensasi balapan sprint yang selama ini menjadi daya tarik utama F1.
Kritik Verstappen bukan tanpa dasar. Jika pembalap pengganti seperti Lawson dan Tsunoda bisa langsung tampil kompetitif tanpa pengalaman sebelumnya di mobil tersebut, maka faktor pembeda utama—skill dan keberanian—memang tereduksi. Namun, di sisi lain, hasil kualifikasi yang masih didominasi pembalap utama menunjukkan bahwa adaptasi tetap memerlukan waktu. Bagaimana pun, perdebatan ini akan terus bergulir seiring musim berjalan, dan Verstappen tampaknya tidak akan berhenti menyuarakan ketidakpuasannya hingga ada perubahan regulasi yang mengembalikan tantangan murni dalam balapan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!