Jacques Villeneuve tak pernah suka dibingkai sebagai penerus takdir sang ayah. Ketika ia menembus Formula 1 pada 1996 dan langsung merebut gelar dunia setahun kemudian, media kerap meromantisasi kariernya sebagai misi menuntaskan kisah Gilles Villeneuve yang terpotong tragis di Zolder 1982. Namun pria Kanada itu menolak mentah-mentah narasi tersebut. “Berbicara tentang ayah bukan masalah,” ujarnya. “Masalahnya adalah orang-orang itu tidak tertarik pada jawabanku. Mereka hanya ingin mendengar, ‘Aku melanjutkan api karena apa yang belum diselesaikan ayahku’. Tidak, aku balapan karena aku cinta balapan. Sederhana.”
Kekecewaan itu memuncak ketika Jacques memilih bungkam daripada terus berdebat. “Mereka jadi marah. Maka aku bilang, oke, aku tak mau membicarakannya lagi karena sia-sia. Tidak ada diskusi konstruktif. Kalian sebenarnya tidak peduli.” Sikap tegas itu menunjukkan bahwa ia ingin dikenang atas prestasinya sendiri, bukan sekadar bayang-bayang sang legenda.
Jacques hanya berusia 11 tahun saat Gilles meninggal dalam sesi kualifikasi Grand Prix Belgia 1982. Saat itu, pernikahan orang tuanya sedang goyah karena obsesi sang ayah pada balapan. “Ketika ia pergi, aku sudah satu-dua tahun tidak bertemu dengannya,” kenangnya. “Ia tidak benar-benar tinggal bersama kami. Situasinya aneh.” Kenangan masa kecil pun kabur, bercampur dengan cerita yang dituturkan ibunya. “Aku tidak pernah tahu apakah itu memori asli atau memori yang diceritakan. Sangat membingungkan.”

Film dokumenter terbaru, Villeneuve: Rise of a Legend, yang akan tayang perdana di Toronto International Film Festival pada 19 September, menawarkan kesempatan langka bagi Jacques untuk menyatukan titik-titik masa lalunya. “Sekarang menyenangkan bisa memberi titik pada hal itu. Dan menurutku film ini cukup akurat tentang tahun-tahun pembentukan itu,” akunya. Film ini menyoroti karier awal Gilles sebelum era ikoniknya bersama Ferrari, termasuk kemenangan terakhirnya di Jarama, Madrid, pada 1981—lokasi yang kini kembali menjadi tuan rumah F1.
Bagi Jacques, menjadi anak seorang ikon motorsport berarti hidup di bawah sorotan tajam. Tekanan itu memaksa pembalap muda mengembangkan kulit tebal sejak dini. “Jika kau melakukannya karena alasan yang salah, kau tidak akan bertahan,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya balapan dengan hasrat murni, bukan karena ekspektasi orang lain. Prinsip itulah yang membawanya meraih 11 kemenangan grand prix dan gelar dunia 1997 bersama Williams.
Warisan Gilles Villeneuve memang abadi, tapi Jacques memilih jalannya sendiri. Film ini bukan hanya tentang mengenang sang ayah, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak menemukan identitasnya di tengah bayang-bayang legenda. “Aku mencintai ayahku. Aku bangga padanya—dia luar biasa, apa yang ia capai. Tapi aku melakukan halku sendiri. Aku tidak balapan karena ingin menjadi kelanjutan Gilles Villeneuve. Itu tidak apa-apa,” pungkasnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!