MotoGP, Sportrik Media - Fabio Quartararo hanya mampu finis ke-14 pada MotoGP Thailand 2026 di Buriram bersama Yamaha Factory Racing, dalam akhir pekan yang berujung pembatalan tugas media pembalap oleh pabrikan Jepang tersebut.
Proyek mesin V4 baru Yamaha diharapkan menjadi titik balik setelah kemunduran performa sejak gelar 2021 dengan konfigurasi inline-four. Namun, di Buriram, M1 belum menunjukkan daya saing signifikan. Motor tercatat paling lambat di speed trap, mengalami kesulitan traksi belakang, serta dinilai kurang lincah dibandingkan generasi sebelumnya.

Pada kualifikasi, Quartararo menjadi Yamaha terbaik di posisi ke-16 dan tertinggal hampir 0,9 detik dari batas teratas Q1. Dalam balapan utama, ia kembali menjadi pembalap Yamaha terdepan di posisi ke-14, tetapi terpaut 30,823 detik dari pemenang balapan Marco Bezzecchi dari Aprilia.

Dari sisi kecepatan balap, Bezzecchi mencatat rata-rata 1 menit 31,390 detik per lap, termasuk dua lap terakhir di kisaran 1 menit 33 dan 1 menit 34 detik. Sebaliknya, Quartararo memiliki rata-rata 1 menit 32,468 detik, lebih dari satu detik per lap lebih lambat di salah satu sirkuit terpendek kalender.
Yamaha sejak awal mengakui paruh pertama musim 2026 akan diperlakukan sebagai fase pengujian lanjutan. Masalah mekanis yang sempat mengurangi waktu tes di Sepang menjadi indikasi awal tantangan teknis yang dihadapi. Di Buriram, umpan balik pembalap juga kurang positif, dengan Quartararo menyebut belum ada arah pengembangan yang jelas dan tidak mengharapkan mesin baru sebelum Mei.
Di garis finis, Yamaha menempati posisi ke-14, 15, 17, dan 18 — menjadi awal musim terburuk mereka di era modern MotoGP. Meski lazim pembalap absen dari sesi media pada seri flyaway, keputusan pabrikan untuk menarik seluruh pembalap dari kewajiban media dan menggantinya dengan manajemen senior jarang terjadi.
Kepala Yamaha, Paolo Pavesio, berbicara kepada media pada Minggu sore di Buriram.
“Saat ini, saya rasa memang tepat bagi saya untuk menjelaskan posisi kami,” ujarnya.
“Kami berada di titik di mana kami melihat jarak yang memisahkan kami dari yang tercepat, dan kami memiliki gunung untuk didaki.”
“Ini tidak akan terjadi dalam semalam, tidak ada keajaiban. Setiap kali kami turun ke lintasan, kami menemukan sesuatu yang baru.”
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Yamaha menyadari posisi kompetitif saat ini sebagai realitas jangka menengah. Dengan tekanan pasar pembalap menuju 2027 dan ketertinggalan performa yang signifikan, Buriram menjadi cerminan tantangan besar yang harus dihadapi Yamaha untuk kembali bersaing di level teratas MotoGP.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!