Formula 1, Sportrik Media - Sergio Pérez dari Cadillac mengungkap dinamika internal dengan Max Verstappen di São Paulo Grand Prix 2023 bersama Oracle Red Bull Racing, yang membuka masalah mental dan strategis dalam struktur tim juara dunia.
Selama empat musim menjadi rekan setim Max Verstappen di Oracle Red Bull Racing, Sergio Pérez menilai kekuatan terbesar sang juara dunia empat kali justru menjadi sumber tekanan ketika kondisi tidak berjalan sesuai rencana. Pérez menjelaskan bahwa Verstappen memiliki mental kompetitif ekstrem yang membuatnya “berubah” saat berada di dalam mobil, tetapi karakter yang sama membuatnya kesulitan mengelola situasi ketika kehilangan kendali strategis atau posisi lintasan.
Dalam wawancara resmi, Pérez menyebut Verstappen sebagai pemimpin teknis dan psikologis tim, tetapi juga mengakui sisi gelap dari karakter tersebut. “Max adalah pembalap dengan mental sangat kuat dan sangat fokus untuk menang, tetapi ketika keadaan berbalik melawannya, dia kesulitan menghadapinya,” ujar Pérez. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana dinamika personal berdampak langsung pada operasional dua mobil dalam struktur Formula 1 modern di bawah kepemimpinan Christian Horner.
Momen paling jelas dari ketegangan tersebut terjadi pada São Paulo Grand Prix 2023 ketika Verstappen menolak mematuhi instruksi tim untuk memberi posisi kepada Pérez dalam pertarungan klasemen. Insiden tersebut bukan sekadar konflik antar pembalap, tetapi refleksi dari bagaimana Verstappen bereaksi ketika situasi kompetitif tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendalinya, meskipun ia sudah mengunci gelar dunia.
Dari sudut pandang strategi tim, sikap tersebut memaksa Red Bull mengorbankan fleksibilitas dalam perebutan posisi kedua kejuaraan dunia, sebuah target penting bagi stabilitas finansial dan teknis tim. Bagi Pérez, yang saat itu bersaing langsung dengan Charles Leclerc, kehilangan poin di Interlagos berdampak signifikan terhadap peluangnya mengamankan posisi runner-up dunia.
Secara keseluruhan, pengakuan Pérez menyoroti bahwa dominasi Verstappen tidak hanya dibangun oleh kecepatan dan teknik mengemudi, tetapi juga oleh karakter mental yang keras, yang pada situasi tertentu justru menjadi titik lemah dalam manajemen dua mobil. Dinamika ini menjadi faktor penting dalam memahami bagaimana Red Bull membangun dan mempertahankan hegemoni mereka di era modern Formula 1 menjelang musim-musim berikutnya. Baca analisis lanjutan hanya di https://sportrik.com.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!