Valentino Rossi menilai MotoGP 2026 akan menjadi musim transisi, namun tetap berpotensi menghadirkan kejutan dari para pembalap bintang yang tampil di bawah standar pada musim sebelumnya. Dengan regulasi pengembangan mesin yang dibekukan dan fokus pabrikan mulai beralih ke proyek motor 850cc untuk 2027, Rossi melihat 2026 sebagai tahun penyeimbang sebelum perubahan besar berikutnya.
Rossi menyebut bahwa secara teknis, perbedaan motor MotoGP 2026 tidak akan terlalu jauh dibandingkan musim lalu. Namun, ia menekankan bahwa dinamika kompetisi tetap bisa berubah drastis, terutama bagi pembalap yang gagal menunjukkan potensi maksimalnya pada 2025.
“Dari sudut pandang teknis, hanya sedikit yang berubah. Ini adalah musim transisi; semua pabrikan sudah melihat ke 2027 dan mulai mengerjakan motor baru,” ujar Rossi kepada Sky Italia.
“Motornya sangat mirip dengan tahun lalu, tetapi setiap musim punya ceritanya sendiri.”

Dalam konteks tersebut, Rossi secara khusus menyoroti dua mantan juara dunia, Francesco Bagnaia dan Jorge Martin, yang sama-sama menjalani musim 2025 yang sulit, meski dengan latar belakang berbeda.
“Tahun lalu ada beberapa pembalap yang tampil di bawah potensi mereka: terutama Pecco, tapi juga Martin, misalnya,” lanjut Rossi.
“Kami berharap mereka semua bisa kembali ke performa terbaiknya.”
Bagnaia mengalami kesulitan beradaptasi dengan Ducati GP25 dan tertinggal dalam persaingan internal, termasuk dari duo Marquez, serta kalah poin dari Marco Bezzecchi bersama Aprilia Racing dan Pedro Acosta dari KTM di klasemen akhir. Sementara itu, Martin hanya mampu tampil dalam delapan seri pada musim debutnya bersama Aprilia akibat cedera berkepanjangan.
Rossi juga menyinggung performa dua pembalap tim miliknya, Pertamina Enduro VR46 Racing Team, yakni Franco Morbidelli dan Fabio di Giannantonio, yang tengah berupaya meningkatkan konsistensi setelah dua musim tanpa kemenangan di MotoGP.
“Kami berharap Franco dan Diggia juga bisa melangkah maju dan menjadi lebih kuat. Lalu kita lihat apa yang terjadi,” kata Rossi.
Menurut Rossi, ketatnya persaingan MotoGP modern membuat perbedaan performa menjadi sangat tipis dan sulit diprediksi dari satu seri ke seri berikutnya.
“Levelnya sangat tinggi. Di MotoGP semua pembalap kuat dan semua motor juga kuat,” jelasnya saat peluncuran tim VR46.
“Masalahnya, di satu trek motor bisa sangat kompetitif dan bertarung untuk podium, lalu seminggu kemudian, dengan kondisi yang tampaknya sama, semuanya tidak bekerja.”
Ia menambahkan bahwa perubahan kecil dapat berdampak besar pada hasil akhir sebuah akhir pekan balap.
“Karena semua orang sangat cepat dan jaraknya sangat dekat, hanya butuh sedikit saja untuk berubah dari bertarung di podium menjadi finis di posisi sepuluh,” ujar Rossi.
“Itulah kuncinya. Kami juga harus berkembang sebagai tim dan datang ke setiap sirkuit dengan kesiapan untuk langsung cepat.”
Musim lalu, Morbidelli dan di Giannantonio finis tepat di belakang Bagnaia, masing-masing di posisi ketujuh dan keenam klasemen dunia, menunjukkan potensi yang masih bisa dikembangkan lebih jauh pada 2026.
Tes pramusim MotoGP 2026 akan dimulai di Sepang, Malaysia, pada 3 Februari, yang menjadi kesempatan pertama bagi para pembalap dan tim untuk melihat sejauh mana musim transisi ini dapat mengubah peta persaingan.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!