Menyongsong seri pamungkas Kejuaraan Ketahanan Dunia FIA WEC di Autodromo Nazionale Monza, Richard Lietz bersiap menorehkan tonggak sejarah penting dalam karier balap profesionalnya. Pembalap pabrikan Porsche berusia 42 tahun ini akan melakoni balapan WEC ke-100 sepanjang kariernya, mengikuti jejak kompatriot seperti Sebastien Buemi yang sudah lebih dulu mencapai angka tersebut. Akhir pekan ini, Lietz akan mengemudikan mobil Porsche 911 GT3 R milik tim Manthey dengan membawa misi besar: memperebutkan gelar juara dunia kategori GT3 yang menjadi peluang ketiganya.
Mengulas perjalanan musim ini, Lietz menilai konsistensi menjadi kunci utama dalam persaingan ketat kelas GT3. "Bahwa kami masih memiliki peluang meraih gelar juara jelang seri final adalah pertanda yang sangat baik. Tiga kali finis ketiga dan sekali menang adalah hasil yang cukup lumayan, asalkan tidak ada hasil nirpoin," buka pembalap asal Austria tersebut. Dirinya menambahkan bahwa secara kecepatan murni, performa tim sepanjang musim ini sudah berada di jalur yang benar. Kegagalan meraih poin maksimal di Le Mans akibat patahnya komponen tie-rod pada jam kedua balapan menjadi pukulan telak yang membuat mereka tertinggal 18 poin dari pimpinan klasemen sementara, Corvette, yang digawangi oleh Johnny Edgar.
Tantangan berat dipastikan menanti di sirkuit legendaris Monza. Mobil Porsche bernomor start mereka harus membawa tambahan bobot kompensasi seberat 30 kilogram menyusul kemenangan gemilang pada seri sebelumnya di Barcelona. Faktor teknis ini diyakini sangat krusial mengingat karakteristik Monza yang sangat mengandalkan efisiensi tenaga di trek lurus. Selain itu, suhu lintasan yang dingin serta degradasi ban yang rendah akan menguntungkan mobil-mobil rival yang biasanya mengalami masalah keausan karet ban. Lietz dan rekan setimnya, Riccardo Pera serta Yasser Shahin, harus memutar otak mencari set-up aerodinamika terbaik demi meredam keunggulan bobot tersebut.

Meski demikian, pengeluaran energi mental dan fisik di Monza bukanlah hal baru bagi pembalap senior ini. Pengalamannya di sirkuit berkarakter high-speed ini terbentang luas mulai dari sesi pengujian privat, ajang GT World Challenge, European Le Mans Series, hingga Porsche Supercup. Terkait masa depannya bersama pabrikan Stuttgart, Lietz yang kontraknya segera berakhir mengaku masih membuka peluang lebar untuk terus membalap. Pembicaraan awal telah dilakukan, termasuk rencana tampil di Asian Le Mans Series bersama Manthey demi menjaga ketajaman refleks selama musim dingin. "Saya masih menikmati setiap detik di dalam kokpit. Saya sadar banyak pembalap muda berbakat yang mengincar kursi ini, tetapi jika tenaga saya masih dibutuhkan, saya selalu siap," ujar Lietz sambil tersenyum menutup pembicaraan.




Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!