Insiden sengguhan kontroversial yang melibatkan Marc Marquez dan Marco Bezzecchi pada sesi Tissot Sprint GP Qatar di Sirkuit Lusail terus memicu perdebatan panas di kalangan pengamat paddock. Salah satu kritik paling tajam datang dari manajer kenamaan asal Italia, Carlo Pernat, yang secara terbuka mengecam keputusan Race Direction karena tidak memberikan sanksi apa pun kepada pembalap pabrikan Ducati tersebut menyusul insiden jatuhnya sang rival di Tikungan 1.
Pertarungan ketat antara kedua pembalap bermula ketika Marquez mengambil jalur luar sementara Bezzecchi memilih merangsek melalui sisi dalam. Titik kontak di Tikungan 1 tersebut membuat pembalap Aprilia Racing itu kehilangan kendali, terjatuh, dan terpaksa mengakhiri balapan lebih awal. Meskipun pengawas balapan memutuskan untuk mengklasifikasikannya sebagai murni insiden balapan biasa tanpa investigasi lanjutan, Pernat memiliki pandangan yang jauh berbeda dan menilai bahwa hukuman penalti selayaknya dijatuhkan.
Dalam wawancaranya bersama GpOne, Carlo Pernat menegaskan bahwa tidak ada unsur kesalahan bersama dalam insiden tersebut. "Bezzecchi masuk dengan sangat bersih tanpa sedikit pun melebar ke area run-off. Ia berada di jalur dalam dan menjadi satu-satunya yang mampu menguasai racing line tersebut. Marquez tidak rela kehilangan posisinya lalu mencoba membalas dari sisi luar, menyenggolnya, hingga terjatuh. Tentu saja ia tidak melakukannya secara sengaja," ujar Pernat dengan nada geram.

Lebih lanjut, pengamat senior tersebut menyoroti konsistensi regulasi yang diterapkan oleh para pengawas balapan di kejuaraan dunia musim ini. Menurutnya, pembiaran atas insiden semacam ini dapat menciptakan preseden buruk di lintasan. "Mengingat regulasi yang berlaku saat ini, ia tetap harus dijatuhi sanksi. Toh, gelar juara dunia sudah berada di genggamannya. Hukuman tetap wajib diberikan, sebab jika tidak, segala bentuk manuver agresif akan dianggap lumrah. Seharusnya mereka menjatuhkan hukuman long lap penalty. Bezzecchi sudah berada di sisi dalam dan memimpin hampir tiga perempat bagian motor, namun pembalap lain tidak mau mengalah dan justru menjatuhkannya," imbuh Pernat.
Di sisi lain, tensi tinggi di luar lintasan justru diredam oleh sikap tenang yang ditunjukkan oleh Bezzecchi pasca-insiden. Pembalap asal Italia tersebut memilih untuk tidak memperpanjang polemik dan menghemat energinya demi menghadapi balapan utama Grand Prix. Meski demikian, perdebatan seputar batasan agresivitas duel jarak dekat di kelas premier kini kembali menjadi sorotan utama para petinggi tim dan pengamat motorsport.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!