Mitch Evans mencatatkan kemenangan ke-15 sepanjang kariernya di Formula E setelah tampil gemilang dalam kondisi basah di Miami E-Prix, sebuah hasil yang mengantarkannya menjadi pembalap dengan jumlah kemenangan terbanyak dalam sejarah kejuaraan tersebut.
Pembalap Jaguar TCS Racing itu memulai balapan dari posisi kesembilan, sebelum menembus barisan depan dan merebut kemenangan lewat manuver switchback krusial atas Nico Müller. Aksi tersebut menjadi titik balik balapan di tengah lintasan licin akibat hujan.
Müller harus puas finis di posisi kedua setelah memulai balapan dari pole position, tepat di depan rekan setimnya di tim pabrikan Porsche, Pascal Wehrlein, yang melengkapi podium. Joel Eriksson tampil solid untuk Envision Racing di posisi keempat, sementara Nyck de Vries menutup lima besar.
Sebaliknya, dua kandidat kuat juara, Nick Cassidy dan Oliver Rowland, gagal meraih poin setelah terjebak di paruh bawah klasemen sepanjang balapan.
Balapan Miami E-Prix berlangsung dalam kondisi yang menantang sejak awal. Hujan turun sebelum start, menjadikannya sesi lintasan basah pertama sepanjang akhir pekan. Minimnya data mengenai kondisi trek basah membuat lima lap pembuka harus dijalani di belakang safety car demi keselamatan.
Setelah start berdiri akhirnya dilakukan, Müller mempertahankan posisi terdepan dari Felipe Drugovich. Seperti lazimnya balapan Formula E di lintasan basah, jarak antarpembalap dengan cepat melebar, dan kelompok terdepan segera terbentuk.
Tujuh pembalap berhasil memisahkan diri dari rombongan utama, yakni Müller, Evans, Drugovich, de Vries, Wehrlein, Eriksson, dan Antonio Felix da Costa. Urutan tersebut bertahan hingga Lap 24, sebelum insiden mengubah dinamika balapan.
Pada Lap 26, Drugovich melakukan kesalahan pengereman di tikungan terakhir dan menabrak bagian belakang mobil da Costa. Insiden tersebut memaksa Drugovich masuk pit untuk perbaikan, sementara da Costa melanjutkan balapan dengan tertinggal beberapa detik dari kelompok terdepan.
Satu lap kemudian, momen penentu terjadi. Evans melakukan manuver switchback berkelas atas Müller, memanfaatkan traksi superior Jaguar di lintasan basah untuk merebut pimpinan balapan. Setelah berada di depan, Evans langsung membangun jarak dan mengontrol tempo.
Dengan sepuluh lap tersisa, Evans memimpin dari Müller, sementara de Vries, Wehrlein, dan Eriksson saling berebut posisi ketiga. Seluruh lima besar masih menyimpan satu Attack Mode terakhir, menjadikan fase akhir balapan sangat strategis.
Wehrlein menjadi pembalap pertama yang mengaktifkan Attack Mode terakhir pada Lap 33, memungkinkan dirinya menyalip de Vries dengan relatif mudah untuk naik ke posisi ketiga. Müller merespons satu lap kemudian, disusul Evans pada lap berikutnya.
Ketiga pembalap terdepan segera menciptakan jarak aman, sementara de Vries justru kehilangan momentum dan tertinggal cukup jauh. Ia bahkan disalip Eriksson, sebelum akhirnya bertahan di posisi kelima hingga finis.
Di barisan depan, posisi tidak lagi berubah. Evans melintasi garis finis sebagai pemenang, diikuti Müller dan Wehrlein, yang memastikan Porsche meraih double podium penting dalam perburuan poin konstruktor.
Hasil ini memiliki implikasi signifikan bagi klasemen Formula E. Kemenangan Evans tidak hanya mengukuhkan posisinya dalam sejarah kejuaraan, tetapi juga memberikan dorongan besar bagi Jaguar dalam persaingan musim ini, terutama di balapan-balapan dengan kondisi cuaca ekstrem.
Miami E-Prix juga kembali menegaskan bahwa adaptasi terhadap kondisi lintasan dan eksekusi strategi, terutama penggunaan Attack Mode, menjadi faktor penentu di Formula E modern. Dalam kondisi basah, margin kesalahan sangat kecil, dan keputusan sepersekian detik dapat menentukan hasil akhir.
Dengan kalender Formula E yang masih panjang, performa Evans di Miami menjadi sinyal kuat bahwa konsistensi dan pengalaman tetap menjadi senjata utama di tengah persaingan yang semakin ketat.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!