MotoGP, Sportrik Media - Francesco Bagnaia, pembalap andalan Ducati Lenovo Team, mengalami musim 2025 yang penuh gejolak dengan hanya delapan podium dan tanpa kemenangan, kontras tajam dari gelar juara berturut-turut 2022-2023. Masuk ronde penutup Valencia sebagai runner-up potensial di belakang Marc Marquez yang cedera, Bagnaia akui "melempar" musim ini karena kurang solusi pada Ducati GP25. Analisis mendalam ungkap faktor teknis seperti ride-height device baru dan masalah front-end, ditambah hilangnya kepercayaan diri, sebagai biang kerok penurunan dari dominasi ke krisis.
Performa Bagnaia mencapai puncak di 2022 dengan tujuh kemenangan dan gelar pertama, diikuti 2023 yang solid meski tantangan awal, tapi 2024 sudah tunjukkan retak dengan runner-up tipis 10 poin dari Jorge Martin. Namun, 2025 jadi mimpi buruk: empat ronde tanpa podium berturut-turut, lima kualifikasi di luar top-10, dan tiga akhir pekan tanpa poin, termasuk DNF Malaysia akibat punctured ban belakang.
Bandingkan dengan Marquez yang kuasai GP25 dengan 11 kemenangan sebelum cedera, Bagnaia kalah 257 poin bukti ketidakcocokan rider-bike yang jarang dialami juara bertahan. Selain itu, Davide Tardozzi, sporting director Ducati, sebut Bagnaia harus "bermain peran" lebih aktif, menyoroti isu mental pasca-serangkaian kegagalan.

Penyebab utama? Ducati identifikasi ride-height device 2025 sebagai "kutukan", yang ubah setup fork dari 140mm ke 155mm untuk handling lebih ringan, tapi malah picu front-end lock saat di belakang pembalap lain masalah kronis sejak Jerez. Bagnaia cerita, "Saya kesulitan terima bahwa motor ini tak lagi seperti GP24 yang granitik di depan," ujarnya di Valencia, di mana ia finis P14 Practice dan hadapi Q1 keenam kalinya. Analisis lebih dalam, perubahan ini ditambah tekanan internal Ducati dengan talenta seperti Marco Bezzecchi ancam posisi P3 erodasi kepercayaan diri, seperti yang diakui agennya Carlo Pernat: "Ducati pertimbangkan tukar Bagnaia dengan Martin jika tak pulih." Konsultasi dengan legenda Casey Stoner di Misano beri harapan, tapi hasil Australia (crash lap 21, 13 detik di belakang) tunjukkan ketidakpastian.
Berikut perbandingan stats musim Bagnaia:
| Musim | Posisi Klasemen | Kemenangan | Podium | Pole | DNF |
|---|---|---|---|---|---|
| 2022 | 1 | 7 | 16 | 4 | 4 |
| 2023 | 1 | 7 | 17 | 6 | 3 |
| 2024 | 2 | 11 | 18 | 8 | 2 |
| 2025 | 3* | 0 | 8 | 2 | 7 |
*Proyeksi akhir, dengan 35 poin unggul atas Bezzecchi.
Menghadapi Valencia, Bagnaia optimis dengan aero paket 2025, tapi Tardozzi tegas: "Ia harus adaptasi, bukan Ducati yang ubah segalanya." Namun, dari perspektif rival seperti Pedro Acosta KTM, penurunan ini beri ruang bagi talenta muda potensial ganggu dominasi Luigi Dall'Igna di Ducati Corse. Bandingkan dengan Marquez yang cedera tapi tetap dominan, Bagnaia butuh reset 2026 untuk hindari spekulasi kontrak.
Secara keseluruhan, musim 2025 Bagnaia jadi pelajaran pahit soal adaptasi di era regulasi ketat, di mana perubahan kecil seperti ride-height bisa hancurkan kepercayaan. Dengan Valencia sebagai penutup, ia punya kesempatan simbolis pulihkan harga diri atau perkuat narasi "juara jatuh". Prospek 2026: Kembali ke GP24 evo atau fix GP26 krusial untuk rebut gelar keempat. Pantau finale untuk comeback dramatis. Ikuti analisis di Sportrik.com.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!