Loris Reggiani tidak menyembunyikan perasaannya. Dalam sebuah sesi diskusi di 'ZamTube', mantan pembalap Italia itu mengakui bahwa ia tidak senang melihat Marc Marquez kembali menuju gelar juara dunia MotoGP 2026. “Saya harus menelan kemarahan saya karena saya khawatir ini akan berakhir seperti itu,” ujarnya dengan nada pasrah.
Reggiani, yang juga dikenal sebagai komentator, menilai bahwa performa Marquez dalam beberapa balapan terakhir membuat persaingan gelar semakin tidak seimbang. “Melihat balapan terakhir, sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan. Harapan memang hal terakhir yang hilang. Namun, saya tetap berharap Bezzecchi pulih dan kembali seperti awal musim,” tambahnya.
Harapan pada Bezzecchi dan Kekecewaan pada VR46
Reggiani secara khusus menyoroti Marco Bezzecchi, yang dianggapnya memiliki talenta untuk menantang Marquez. “Saya masih berharap Bezzecchi bangkit. Dia bisa membuat kita bermimpi setidaknya sampai akhir kejuaraan,” tegasnya. Sayangnya, perubahan susunan pembalap di tim VR46 untuk musim 2027—dengan masuknya Bulega dan Aldeguer—membuat Reggiani sedikit kecewa. “Saya berharap Di Giannantonio juga bertahan, tapi malah Ogura yang masuk. Meski Di Giannantonio lebih Italia daripada Ogura, tapi tidak jauh berbeda,” komentarnya.

Menurut Reggiani, Marquez memiliki keunggulan mental yang luar biasa. “Marquez adalah tanki secara psikologis. Dibandingkan dua pembalap lain, dia akan sangat mudah,” ujarnya. Ia membandingkan Marquez dengan Valentino Rossi sebagai pembalap dengan kekuatan mental terbesar yang pernah ia lihat. “Yang lain, Martin dan Bezzecchi, tidak seperti itu. Mereka bagus secara teknis, punya talenta, tapi yang dibutuhkan untuk memenangkan kejuaraan adalah pikiran, kekuatan mental. Tidak membuat kesalahan di momen yang salah, dan tidak terlalu putus asa ketika hasil tidak sesuai. Marquez telah membuktikan tahun ini bahwa dia bisa puas dengan finis ketujuh, sesuatu yang mungkin belum dimiliki dua pembalap lain itu,” jelasnya.
Aprilia dan Peluang yang Terbuang
Meski Marquez tampak mendominasi, Reggiani mengingatkan bahwa Aprilia bisa menjadi ancaman di sirkuit tertentu. “Aprilia di beberapa sirkuit tampak superior. Tapi kedua pembalap Aprilia tidak selalu memanfaatkan momen ketika Aprilia lebih baik. Kadang ya, di awal musim mereka melakukannya. Sekarang kita lihat beberapa kali dua Aprilia Trackhouse finis di depan dua Aprilia tim pabrikan. Mungkin ada alasan teknis, tapi kesempatan seperti itu melawan seseorang seperti Marquez harus dimanfaatkan. Jika tidak, berarti Anda sudah kalah sejak awal,” tegasnya.
Reggiani juga menyentuh sisi humanis Marquez dengan mengingatkan perjuangan fisiknya. “Sekarang orang berbicara tentang Marquez seolah-olah: ‘Ya ampun, dia hanya punya satu lengan’. Tapi tidak ada yang ingat Doohan. Doohan memenangkan lima gelar dunia setelah hampir diamputasi kakinya, dan tidak ada yang mengingat foto Doohan dengan celana pendek?” ujarnya. Ia menilai bahwa kisah Marquez sering kali direduksi menjadi narasi cedera, padahal ada ketangguhan mental dan tekad yang luar biasa.
Dengan pernyataan-pernyataan ini, Reggiani menunjukkan bahwa rivalitas di MotoGP tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga psikologi dan ketangguhan menghadapi tekanan. Marquez, dengan pengalaman dan mentalitasnya, tampaknya masih menjadi tolok ukur yang sulit digeser oleh generasi baru.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!