Suasana paddock MotoGP di Sirkuit Lusail sempat diliputi awan mendung spekulasi dan kekhawatiran menyusul situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Namun, sesampainya para bintang utama di Doha untuk menghadapi Qatar Airways Grand Prix of Qatar, resistensi yang sempat dikhawatirkan tidak terlihat sama sekali. Kedatangan yang mepet dari jadwal normal serta absennya Yamaha sempat menciptakan ketidakpastian besar bagi promotor.
Meski dihantam berbagai rumor dan sempat nyaris terjadi jalan buntu antara para pemegang hak komersial dengan competitor, para rider memilih untuk bersikap terbuka dan kooperatif begitu menginjakkan kaki di area sirkuit. Agenda media pada hari Kamis berjalan tanpa hambatan berarti, di mana para pembalap memilih untuk meredam tensi tinggi demi menjaga kelangsungan kalender balap musim ini.
Francesco Bagnaia, andalan Ducati Lenovo Team yang datang dengan ekspektasi tinggi terhadap aspek keselamatan, mengakui secara jujur bahwa dirinya sempat diliputi perasaan cemas sebelum mendarat di Qatar. Juara dunia ganda asal Italia tersebut menegaskan bahwa kepercayaan penuh kini ia berikan sepenuhnya kepada Dorna Sports, IRTA, serta otoritas pemerintah setempat dalam menggaransi keamanan di paddock.

"Ya, memang benar saya merasa sedikit khawatir," ungkap Bagnaia kepada awak media. "Saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya saat tiba di sini. Tetapi saya memutuskan untuk menaruh kepercayaan penuh kepada Dorna, pihak penyelenggara, IRTA, dan pemerintah. Saya rasa mereka semua bekerja keras demi keselamatan kami dan telah menyediakan hampir semua hal yang kami minta."
Lebih lanjut, pembalap bernomor start #63 tersebut menambahkan bahwa atmosfer di dalam garasi dan pit lane ternyata berjalan normal seperti biasanya. Ia tidak merasakan ancaman langsung yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak di luar lintasan, selain potensi kendala logistik terkait operasional bandara.
"Kita harus bekerja sama. Lebih baik kita bekerja bersama-sama. Saya rasa itu adalah keputusan yang paling tepat," tambah Pecco. "Saya memperkirakan atmosfer di paddock akan berjalan normal. Saya merasa kita tidak perlu takut akan adanya pengeboman di sini. Satu-satunya ketakutan yang bisa kita miliki hanyalah jika mereka menutup bandara."
Nada serupa juga disuarakan oleh sensasi muda Red Bull KTM Factory Racing, Pedro Acosta. Pembalap berjuluk El Tiburon asal Spanyol ini menilai bahwa keputusan penyelenggara untuk tetap melangsungkan balapan di Qatar tentu telah melalui perhitungan matang terkait faktor keamanan dan kendali situasi di lapangan.
"Jika saat itu para penyelenggara memutuskan untuk datang ke sini, saya paham itu karena semuanya berada di bawah kendali," ujar Acosta dalam sesi wawancaranya. "Kedatangan kami di sini berlangsung normal. Segalanya terlihat sangat wajar dan terkendali."
Pembalap muda berbakat tersebut juga menyoroti peran pemberitaan media yang terkadang memperkeruh suasana psikologis para atlet. Menurutnya, sebagai seorang profesional, kewajiban utama mereka adalah menghormati ikatan kontrak serta menunjukkan loyalitas tinggi kepada kejuaraan, tim, dan pabrikan yang menaungi mereka.
"Saya mengerti jika Anda mulai membaca semua berita di media, mungkin Anda akan merasa sangat ketakutan terhadap segalanya. Tetapi pada akhirnya, kami harus melakukan apa yang tertulis dalam kontrak kami. Dan juga, kita harus bersikap profesional terhadap kejuaraan, tim, dan juga pabrikan," pungkas Acosta menutup sesi media hari Kamis.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!