Lando Norris kembali ke jalur kemenangan sejak GP Hungaria, tetapi satu masalah kronis mengintai: pit-stop McLaren yang lambat. Di Madrid, ia kehilangan posisi kedua dari Max Verstappen akibat pit-stop 6,65 detik—terlalu lama untuk pembalap sekalibernya.
Sejak GP Hungaria, Norris telah memenangi dua dari empat balapan, meraih tiga pole position, dan tampil konsisten di depan. Namun, di balik performa impresifnya, ada kelemahan fatal di pit lane. Rata-rata pit-stop Norris dalam enam GP terakhir adalah 3,88 detik, jauh di atas Mercedes yang hanya 2,56 detik. Hanya 3 dari 10 pit-stop yang selesai di bawah tiga detik.
Di Madrid, VSC memang merugikan Norris, tetapi pit-stop lambat membuatnya rentan. Ia finis kurang dari satu detik di belakang Verstappen, padahal pit-stopnya 4,31 detik lebih lama. Dalam balapan sekencang F1, selisih itu adalah selamanya.

McLaren kini berada di peringkat keenam dalam klasemen pit-stop musim ini, terburuk di antara empat tim top. Padahal, pada 2025 mereka adalah tim terbaik kedua setelah Ferrari. Penurunan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi dan eksekusi tim yang dipimpin Andrea Stella.
Jika Norris—dan juga Oscar Piastri—ingin terus bersaing memperebutkan kemenangan, McLaren harus segera membalikkan tren negatif ini. Kecepatan mobil sudah terbukti, tetapi tanpa pit-stop yang tajam, peluang juara bisa hilang di lorong pit.
Kesalahan pit-stop bukan sekadar masalah mekanik, melainkan cerminan persiapan dan koordinasi tim. Di level ini, setiap detik sangat berarti, dan McLaren tidak bisa terus-menerus membuang waktu berharga di pit lane.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!