Charles Leclerc tampil impresif dengan ban soft di sprint race Grand Prix Belanda. Performa itu membuat para rival Ferrari mulai waspada, tetapi hasil kualifikasi yang mengecewakan bisa membuat Scuderia kesulitan memanfaatkan keunggulan tersebut di balapan utama.
Pada sprint Sabtu di Zandvoort, Ferrari menunjukkan pace kuat, terutama lewat Charles Leclerc yang jauh lebih nyaman dengan set-up dibandingkan rekan setimnya, Lewis Hamilton. Sebagai satu-satunya pembalap di barisan depan yang memakai ban soft—bukan medium yang lebih tahan lama—Leclerc bersabar hingga berhasil melewati Norris untuk merebut posisi kedua di belakang pemenang George Russell.
Kepala tim McLaren, Andrea Stella, menilai pilihan ban soft Leclerc "cukup ambisius", tetapi menurutnya Ferrari pasti punya alasan kuat untuk percaya strategi itu akan berhasil. Dan benar saja, Leclerc mampu menyalip Norris ketika pembalap McLaren itu kesulitan dengan degradasi ban belakang.

Penampilan Leclerc dengan ban soft tentu menjadi bahan analisis bagi para rival jelang balapan penuh. Namun, Stella juga melihat itu sebagai indikasi bahwa McLaren mungkin bukan satu-satunya yang perlu khawatir: "Saya pikir lap time Ferrari dalam lap beruntun di latihan pertama adalah yang terbaik," ujarnya. "Dan mungkin di sprint, Leclerc masih yang terbaik secara pace. Sekarang, saya tidak yakin apakah itu karena ban soft atau karena mereka memang punya mobil tercepat dalam hal race pace."
Ferrari tentu senang lebih cepat di race trim daripada satu lap, tetapi mengingat sulitnya menyalip di sirkuit Zandvoort yang sempit dan berliku, keunggulan itu tidak banyak membantu. Leclerc, yang start dari posisi keenam, mengakui: "Kami mencoba membuat mobil secepat mungkin, tetapi untuk karakteristik yang kami miliki, bekerja sedikit lebih baik di balapan daripada di kualifikasi. Saya lebih suka seperti itu daripada sebaliknya, tapi di trek seperti ini, itu tidak membantu."
Dengan balapan yang diperkirakan hanya satu kali pit stop, masih menjadi pertanyaan apakah Ferrari bisa memanfaatkan keunggulan race pace atau justru terjebak di belakang. Opsi utama mereka adalah start dengan ban soft—kedua pembalap menyimpan satu set ban soft baru, berbeda dengan rival langsung—untuk menyerang di awal, lalu pit stop lebih awal dan memaksa lawan menjalani stint panjang dengan ban hard.
Kepala tim Fred Vasseur menegaskan timnya akan mencoba memanfaatkan peluang itu. Namun, jika lalu lintas di depan terlalu ketat, kecepatan balap Ferrari bisa menjadi sesuatu yang sia-sia. Semua mata akan tertuju pada start dan strategi pit stop untuk melihat apakah Ferrari bisa mengubah potensi menjadi hasil nyata.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!