SPONSORED

Kimi Antonelli Menangi Monza 2026, Comeback Terhebat?

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Kimi Antonelli Menangi Monza 2026, Comeback Terhebat?
TO NEWS OVERVIEW
© XPBimages

Kimi Antonelli baru saja menorehkan salah satu kemenangan paling dramatis dalam sejarah Formula 1. Start dari posisi ke-19 di Grand Prix Italia, pembalap muda asal Italia ini sukses menjadi yang terdepan saat finis di depan para Tifosi yang memadati sirkuit Monza. Namun, pertanyaannya kini menggantung: apakah ini comeback terhebat yang pernah ada?

Antonelli, yang baru berusia 20 tahun, menjalani balapan yang nyaris sempurna. Dengan 26 kali overtake dan manuver krusial di akhir balapan untuk melewati rekan setimnya, George Russell, ia mengakhiri penantian panjang 60 tahun tanpa pemenang asal Italia di Monza. Kemenangan ini langsung memicu perdebatan seru di kalangan penggemar dan analis: apakah ini setara, atau bahkan melampaui, comeback- comeback legendaris seperti milik John Watson atau Jenson Button?

Untuk menilai hal tersebut, kita perlu melihat konteks historisnya. Beberapa kemenangan comeback terbaik dalam sejarah F1 datang dari situasi yang berbeda-beda. John Watson pada 1983 di Long Beach, misalnya, memulai dari posisi ke-22 dan menang di tengah keterbatasan mobil McLaren yang bertenaga DFV. Itu adalah posisi start terendah yang pernah menjadi pemenang. Lalu ada Rubens Barrichello di Hockenheim 2000, yang bangkit dari posisi ke-18 dan memanfaatkan strategi berani bertahan di slick saat hujan turun untuk meraih kemenangan perdananya setelah 123 start.

Bearman: Ferrari ADUO 2 Engine Upgrade Not a Game Changer for Haas
Read AlsoBearman: Ferrari ADUO 2 Engine Upgrade Not a Game Changer for Haas

Namun, ada pula comeback yang terjadi di tengah balapan, bukan dari posisi start belakang. Jenson Button di Kanada 2011 adalah contoh paling ekstrem: bertabrakan dengan rekan setim, kena penalti, dan sempat terakhir di paruh balapan, tetapi ia mampu membaca balapan dengan brilian dan melewati Sebastian Vettel di lap terakhir. Sergio Perez di Sakhir 2020 juga sempat terlempar ke posisi terakhir setelah insiden lap satu, lalu naik ke depan berkat strategi dua pit stop yang sabar dan kesalahan pit stop ganda Mercedes.

ADVERTISEMENT

Lalu ada yang bersifat comeback sepanjang akhir pekan, seperti Lewis Hamilton di Sao Paulo 2021, yang bangkit dari posisi terakhir di sprint dan penalti mesin untuk menyalip Max Verstappen di balapan utama. Max Verstappen sendiri pada 2024 di Sao Paulo melakukan aksi luar biasa di tengah hujan deras, dari P17 menjadi pemimpin di lap 43 dan menang dengan keunggulan 20 detik, sekaligus mengunci gelar juara dunianya yang keempat.

Kembali ke Antonelli, start dari P19 di Monza setelah penalti power unit membuatnya harus bekerja ekstra. Ia melakukan overtake demi overtake dengan tenang, lalu memanfaatkan periode Virtual Safety Car untuk masuk pit dan mengganti ban ke medium yang lebih segar. Setelah itu, ia memburu Russell dan menyalipnya hanya dengan tiga lap tersisa. Momen itu terjadi di depan publik sendiri, dengan tekanan luar biasa, dan melawan rekan setim yang sedang dalam performa apik.

Jika dilihat dari jumlah posisi yang diperoleh (18 posisi), kemenangan Antonelli ini sejajar dengan pencapaian Watson dan Button, namun konteksnya berbeda. Watson dan Button melakukannya dengan mobil yang tidak dominan, sementara Antonelli berada di mobil Mercedes yang kompetitif. Namun, tekanan balapan di kandak sendiri dan kemenangan bersejarah setelah 60 tahun membuatnya memiliki bobot emosional yang sangat besar. Apakah ini yang terhebat? Mungkin sulit untuk membandingkan secara objektif, tetapi satu hal yang pasti: Antonelli telah menciptakan momen yang akan dikenang dalam sejarah F1.

ADVERTISEMENT

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU