Formula 1 resmi mengumumkan rencana kembalinya ajang balap jet darat ke Benua Afrika pada awal dekade 2030-an melalui pembangunan sirkuit baru di Rwanda. Kesepakatan bersejarah ini menandai kembalinya F1 ke Afrika untuk pertama kalinya sejak Lewis Hamilton dan para pembalap lainnya terakhir kali berlaga di benua tersebut pada tahun 1993, sekaligus memberikan status Grand Prix mandiri yang independen.
Pengumuman ini langsung disambut antusias oleh para pelaku balap internasional, termasuk mewujudkan impian lama juara dunia tujuh kali tersebut untuk bisa merasakan atmosfer balapan di tanah Afrika sebelum dirinya pensiun dari dunia balap profesional. Namun, keputusan penunjukan Rwanda ini justru memicu reaksi keras dan kritikan tajam dari pemerintah negara tetangga, khususnya terkait pembagian jatah kalender balap global yang dinilai tidak adil bagi negara-negara Afrika lainnya.
Sebelum kesepakatan dengan Rwanda tercapai, upaya panjang untuk membawa kembali F1 ke sirkuit legendaris Kyalami di Afrika Selatan selalu menemui jalan buntu, begitu pula dengan wacana menggelar balapan jalan raya di Cape Town yang sempat sukses menggelar ajang Formula E pada musim 2023 lalu. Ketimpangan jumlah seri balapan antarbenua ini mendapat sorotan tajam dari Menteri Olahraga, Kesenian, dan Kebudayaan Afrika Selatan, Gayton McKenzie.

Dalam sesi brifing media yang dilansir oleh IOL, McKenzie melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan alokasi kalender F1 saat ini. Ia mempertanyakan logika pembagian jatah yang hanya memberikan satu slot untuk seluruh benua. "Bagaimana cara berpikir seperti itu? Karena Afrika memiliki 54 negara, apakah adil jika Amerika Serikat mendapatkan tiga seri, Eropa mendapatkan sembilan, dan Timur Tengah mempunyai empat seri?" ujar McKenzie dengan nada tinggi.
Meskipun demikian, McKenzie menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki rasa iri atau permusuhan terhadap keberhasilan Rwanda. Ia justru meyakini bahwa kehadiran fasilitas baru di Rwanda dapat memperkuat posisi tawar Afrika Selatan untuk turut menyusul menjadi tuan rumah pada tahun 2028 atau 2029 mendatang. "Sekarang kami sangat senang dengan Rwanda, hal itu membantu misi kami untuk memastikan bahwa Afrika benar-benar memiliki F1," pungkasnya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!