Kegagalan mengamankan slot kalender balap Formula 1 dalam waktu dekat tidak menyurutkan langkah pemerintah Sud Afrika untuk menyerah begitu saja dari persaingan global motorsport.
Pengumuman resmi penunjukan Rwanda sebagai tuan rumah Grand Prix Afrika yang baru dengan kontrak berdurasi sepuluh tahun sempat memicu spekulasi luas di berbagai kalangan media internasional.
Menteri Olahraga, Seni, dan Budaya Gayton McKenzie dengan tegas membantah narasi bahwa negaranya telah kalah bersaing dalam perebutan posisi kalender balap elit dunia tersebut.

Dalam keterangan resminya kepada awak media, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada pemerintah Rwanda atas pencapaian historis yang berhasil diraih untuk kemajuan benua Afrika secara keseluruhan.
"Voglio congratularmi con il Ruanda per aver ottenuto un posto in calendario di F1 nel prossimo decennio," ujar McKenzie sebagaimana diterjemahkan, seraya menekankan bahwa proses pemilihan tersebut tidak dilakukan melalui undian sembarangan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Rwanda telah mempersiapkan seluruh persyaratan administratif jauh sebelum dirinya menjabat sebagai menteri, sehingga pencapaian tersebut dinilai sangat layak dan murni hasil kerja keras.
Meskipun posisi perdana jatuh ke tangan Rwanda, persiapan intensif terus digodok di Pretoria guna membidik target jangka panjang menjelang akhir dekade ini.
"Ora dicono che il Ruanda ci ha battuto. No, il Ruanda non ci ha battuto – ha ribadito – noi sudafricani guardiamo ancora al 2028, al 2029," ungkap sang menteri menegaskan target waktu ambisius negaranya.
Dukungan finansial yang kuat juga diklaim telah dikantongi berkat keterlibatan korporasi besar seperti MTN, Betway, Discovery, dan Canal+, serta lembaga perbankan raksasa.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!