Casey Stoner mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami keraguan besar terhadap bakatnya sendiri sebelum berhasil mengamankan gelar juara dunia MotoGP keduanya. Gelar perdana yang diraihnya pada musim 2007 bersama Ducati kerap dibayangi oleh berbagai kritik pedas dari berbagai pihak yang meragukan kapasitas murninya sebagai seorang pembalap profesional di lintasan balap.
Pada masa awal regulasi mesin 800cc tersebut, motor Desmosedici dikenal memiliki keunggulan tenaga mesin yang paling dominan di grid. Selain itu, kombinasi penggunaan ban Bridgestone oleh pabrikan Borgo Panigale dianggap jauh lebih superior dibandingkan ban Michelin yang dipakai oleh para rival terdekat mereka saat itu, sehingga memicu anggapan miring tentang kesuksesannya.
Bagi pembalap asal Australia tersebut, segala sorotan tajam yang terlalu mengagung-agungkan keunggulan spesifikasi teknis motor secara tidak langsung telah mengabaikan kerja keras serta talenta individunya. Ia merasa bahwa kepindahannya ke pabrikan Honda pada tahun pertama berhasil membungkam keraguan tersebut dan membuktikan kapasitas aslinya sebagai juara sejati di ajang grand prix.

Dalam wawancara eksklusif bersama MotoGP.com, ia menyatakan bahwa dirinya sudah lama menjadi sasaran kritik publik. Orang-orang menganggap ia menang semata-mata karena menunggangi motor terbaik tanpa melihat kemampuan balapnya secara utuh.
Lebih lanjut, momen penguncian gelar juara dunia pada musim 2011 terasa begitu emosional karena diraih di hadapan publik sendiri bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Situasi balapan semakin dramatis ketika Jorge Lorenzo terpaksa harus menarik diri dari balapan akibat mengalami cedera parah pada jari tangan saat sesi pemanasan pagi hari.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!