Dengan hampir mustahilnya Hyundai mengejar ketertinggalan 54 poin dari Toyota di kejuaraan konstruktor WRC 2026—kecuali keajaiban terjadi di Chile—fokus tim pabrikan asal Korea itu kini bergeser. Kursi ketiga Hyundai yang diisi secara bergilir oleh Hayden Paddon, Dani Sordo, dan Esapekka Lappi sepanjang musim ini, kembali menjadi sorotan. Tugas mereka selama ini sederhana: menjadi benteng pertahanan dan polis asuransi jika Adrien Fourmaux atau Thierry Neuville mengalami masalah.
Minggu ini, Lappi mendapat kesempatan di Chile, yang bisa menjadi start terakhirnya di kelas utama WRC. Ini adalah momen lingkaran penuh baginya, mengingat dua tahun lalu ia meninggalkan Chile dengan keyakinan bahwa kariernya di kejuaraan dunia telah usai. Namun, banyak pihak mempertanyakan keputusan Hyundai menunjuk Lappi untuk event Amerika Selatan ini, terutama setelah performa impresif Paddon di Paraguay. Mengapa Paddon hanya diberi satu event di gravel dan tidak diperpanjang menjadi dua?
Dengan tidak adanya lagi yang dipertaruhkan dalam klasemen—bahkan di klasemen pembalap, Fourmaux tertinggal 67 poin—muncul pertanyaan: apakah Hyundai seharusnya lebih berani dalam memilih pembalap ketiganya? Topik ini diangkat oleh David Evans dalam episode minggu ini dari SPIN, The Rally Pod.

“Lappi semacam sudah menerima bahwa ini akan menjadi penampilan terakhirnya, dan itu sendiri menjadi alasan mengapa Hyundai salah langkah,” kata Evans. “EP tidak lagi memiliki hasrat membara untuk membawa kariernya lebih jauh di level ini. Jadi, saya akan tergoda untuk mencoba sesuatu yang lain. Memang, menyesali sesuatu setelah kejadian itu mudah. Seperti yang Anda katakan, saya akan menempatkan Paddon di kedua event. Secara logistik, itu mungkin lebih mudah. Tetapi sama halnya, saya akan melempar bola melengkung dan membawa Kris Meeke kembali.”
Ungkapan Evans langsung menarik perhatian. Ia melanjutkan: “Pada titik musim ini, Anda tidak akan menjadi juara konstruktor. Anda ingin mencari lonjakan minat dan potensi berita yang bisa Anda sampaikan. Membawa Meeke kembali, semua orang pasti akan membicarakannya. Ini seperti ketika Marcus Gronholm kembali di Portugal dengan Impreza Prodrive pada 2009, atau kembalinya Sebastien Loeb yang kemudian berlanjut. Contoh yang paling jelas adalah Colin McRae untuk Skoda di Rally GB dan Australia 2005. Saya beruntung bisa membongkar cerita itu, dan itu menjadi cerita luar biasa yang menghasilkan ribuan kolom dan sekarang akan memicu hype besar di media sosial.”
Menurut Evans, Hyundai telah melewatkan peluang untuk mendatangkan nama besar seperti Kris Meeke, yang bisa memberikan dampak positif bagi citra tim di tengah musim yang sulit. “Mungkin mereka memberikan kursi itu terlalu mudah kepada EP,” pungkasnya. Dengan segala hormat kepada Lappi, yang tetap profesional dan dihormati, keputusan ini terlihat kurang berani di mata banyak pengamat.
Di sisi lain, Lappi sendiri tampaknya sudah mengikhlaskan jika ini adalah perpisahannya. Ia akan berusaha memberikan penampilan terbaik di Chile, sekaligus membantu Hyundai mengamankan posisi runner-up konstruktor. Apapun hasilnya, keputusan Hyundai ini akan menjadi bahan diskusi hangat di paddock, dan bisa menjadi pelajaran berharga untuk musim depan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!