SPONSORED

Piastri di Ujung Tanduk: 'Spiral' Performa F1 2026 Terus Menghantuinya

Notifikasi
Ifan Apriyana
Ifan Apriyana
0
Piastri di Ujung Tanduk: 'Spiral' Performa F1 2026 Terus Menghantuinya
TO NEWS OVERVIEW
© XPBimages

Oscar Piastri buka suara soal garis tipis yang ia lalui di F1 2026. Pebalap McLaren itu mengakui sangat mudah terperosok ke 'spiral negatif' saat performa terus menurun, apalagi gaya balapnya yang mulus bertabrakan dengan karakter mobil generasi baru.

Sepanjang musim ini, Piastri gagal menemukan ritme. Terakhir kali ia memenangkan grand prix adalah GP Belanda 2025, dan sejak itu ia tak lagi mampu bersaing di papan atas. Mobil 2026 dengan downforce yang dipangkas drastis memaksa pebalap melakukan koreksi mikro terus-menerus, sesuatu yang tak cocok dengan gaya alaminya yang halus.

Kontras dengan Norris: Mulus vs Agresif

Rekan setimnya, Lando Norris, justru diuntungkan oleh karakter mobil ini. Ia kini unggul 55 poin atas Piastri di klasemen, dan dinilai lebih mampu beradaptasi dengan mobil yang menuntut koreksi konstan tersebut.

Antonelli Buka Suara: Debut Keras Hingga Mimpi Juara Dunia Italia
Baca JugaAntonelli Buka Suara: Debut Keras Hingga Mimpi Juara Dunia Italia

Bos McLaren, Andrea Stella, yakin masalah Piastri murni teknis, bukan mental. Menurutnya, Piastri tak bisa lagi mengandalkan insting murninya karena mobil 2026 tidak merespons gaya mengemudi yang mulus seperti sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Mencari Jawaban di Tengah Tekanan

Usai finis keenam di Zandvoort, tertinggal 32 detik dari Norris yang menang, Piastri bertekad menemukan akar masalahnya. Kini ia merasa telah mendapat jawaban, meski mengakui masalahnya tidak sederhana hanya soal kurangnya grip.

"Kualifikasi di Zandvoort sudah jauh lebih baik, tapi kami harus memperpanjang performa itu ke balapan. Kami punya beberapa jawaban bagus kenapa Zandvoort sulit, dan saya yakin kami menemukan arah yang benar," ujar pebalap Australia itu kepada media di paddock.

Oscar Piastri 2026 © XPBimages

Piastri menjelaskan bahwa masalahnya bukan satu hal yang sama berulang kali, melainkan selalu mengejar sesuatu yang berbeda. "Ada banyak hal yang saling terkait. Ini bukan cuma soal satu titik lemah. Kami harus lebih cepat menemukan solusi, baik dari saya maupun tim," tegasnya.

ADVERTISEMENT

Ia juga mengakui bahwa garis antara performa baik dan buruk sangat tipis. "Saat nyaman, semuanya jadi lebih bawah sadar dan mudah. Tapi saat tidak nyaman, Anda harus berpikir lebih banyak dan tidak lagi mengemudi dengan insting. Itu sebabnya semuanya bisa cepat berantakan," jelasnya.

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Aman, Cepat & Terenkripsi

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

RECOMMENDED FOR YOU