Nick Cassidy Bangun Kepercayaan Instan lewat Momen “Super Terbuka” Citroën di Formula E

© XPBimages
© XPBimages

Formula E, Sportrik Media - Nick Cassidy menemukan fondasi kepercayaan yang krusial bersama tim barunya, Nick Cassidy dan Citroën Formula E, melalui sebuah keputusan strategis yang lahir dari komunikasi “super terbuka” di tengah balapan Mexico City E-Prix. Momen tersebut menjadi penentu kemenangan dramatis sekaligus mengantarkannya ke puncak klasemen sementara Kejuaraan Dunia Formula E musim ini.

 

Cassidy memulai musim Formula E dengan cara nyaris sempurna setelah hengkang dari Jaguar TCS Racing dan bergabung dengan proyek baru Citroën. Dalam dua balapan pembuka di São Paulo dan Mexico City, pembalap asal Selandia Baru itu mengamankan satu podium dan satu kemenangan, unggul empat poin di klasemen pembalap meski baru pertama kali mengendarai paket Stellantis Gen3 Evo milik tim Prancis tersebut.

Konteks pencapaian ini menjadi semakin signifikan mengingat Citroën adalah tim baru di grid Formula E, sementara Cassidy sebelumnya belum memiliki pengalaman balapan kompetitif dengan powertrain dan sistem manajemen energi mereka. Pada uji coba pramusim November lalu, Cassidy bahkan secara terbuka mengakui besarnya tantangan adaptasi yang harus ia hadapi. Namun dua seri awal musim menunjukkan bahwa proses tersebut berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan.

 

Dua balapan pembuka musim ini memperlihatkan pola yang sudah menjadi ciri khas Cassidy. Di São Paulo dan Mexico City, ia menghabiskan sebagian besar balapan di zona tengah, fokus menjaga efisiensi energi, sebelum melancarkan serangan agresif di fase akhir. Pendekatan ini kembali terlihat jelas di Mexico City, ketika Cassidy melesat dari posisi ke-10 menuju kemenangan hanya dalam 13 lap terakhir.

 

Kunci dari keberhasilan tersebut terletak pada keputusan tidak lazim dalam penggunaan attack mode. Cassidy memilih strategi enam menit attack mode pada aktivasi pertama setelah fase full-course yellow—yang kemudian berubah menjadi safety car—dan menyisakan dua menit untuk aktivasi kedua. Pola enam menit lalu dua menit jarang digunakan di Formula E, namun Citroën langsung mendukung gagasan tersebut ketika Cassidy mengusulkannya melalui radio.

“Ya, ini menarik. Menurut saya itu balapan yang sangat ‘gue banget’, kalau boleh dibilang begitu,” ujar Cassidy kepada RacingNews365.
“Strategi enam dan dua menit itu memang berbeda, tapi yang paling keren adalah tim langsung satu frekuensi dengan saya.”

Cassidy menjelaskan bahwa ide tersebut sama sekali tidak dibahas dalam briefing pra-event maupun pra-balapan. Keputusan itu lahir secara spontan saat balapan sedang dinetralisasi, dalam kondisi di mana seluruh tim dapat mendengarkan komunikasi radio rival.

“Kami sedang di bawah full-course yellow, dan itu bukan sesuatu yang kami rencanakan sebelumnya,” lanjutnya.
“Saya lemparkan idenya lewat radio. Dalam situasi seperti itu, Anda sedikit terjebak, karena semua orang bisa mendengar.”

Namun justru di titik itulah kepercayaan mulai terbentuk. Cassidy menilai respons Citroën sangat terbuka dan adaptif, sesuatu yang sangat ia hargai di lingkungan barunya.

“Tim kami sangat terbuka terhadap perubahan dan mereka bisa memahami sudut pandang saya,” kata Cassidy.
“Mereka punya gambaran yang jelas kapan strategi itu paling efektif, dan kami benar-benar bekerja sebagai satu kesatuan. Itu balapan yang membuat saya bangga, terutama karena saya masih di lingkungan baru.”

Kepercayaan ini menjadi kontras menarik dibandingkan dinamika Cassidy di Jaguar dalam dua musim sebelumnya. Meski meraih kesuksesan besar, komunikasi radio Cassidy dengan Jaguar kerap terdengar tegang dan penuh perdebatan. Di Citroën, keselarasan sejak awal musim menciptakan atmosfer yang lebih kondusif untuk kampanye gelar juara.

Kemenangan di Mexico City juga tidak hanya ditentukan oleh serangan, tetapi oleh pertahanan luar biasa di lap-lap terakhir. Cassidy harus menahan tekanan dari Edoardo Mortara yang membela Mahindra Racing, pembalap yang masih memiliki sisa attack mode saat Cassidy kehabisan.

Dengan keunggulan tenaga dan penggerak empat roda yang dimiliki Mortara dalam mode serang, Cassidy menyadari risikonya sangat besar. Ia bahkan telah menerima kemungkinan turun hingga posisi keempat, mengingat Oliver Rowland dan Jake Dennis di belakangnya juga masih menyimpan attack mode.

“Di akhir balapan, saya sendiri cukup terkejut bisa menahan Mortara,” aku Cassidy.
“Saat masuk lap terakhir dan kami berada di level daya yang sama, saya merasa jauh lebih percaya diri.”

Namun sebelum itu, situasinya jauh dari nyaman.

“Ketika dia masih di attack mode, saya merasa seperti bebek duduk,” lanjut Cassidy.
“Saya sudah cukup siap kalau harus finis P4, bukan hanya karena Mortara, tapi juga karena Dennis dan beberapa pembalap lain masih datang dari belakang.”

Kelegaan pun terasa ketika bendera finis dikibarkan dengan Cassidy tetap di posisi terdepan.

“Jadi ya, saya cukup lega bisa bertahan,” tutupnya.

Dengan dua balapan awal yang hampir sempurna, Cassidy tidak hanya memimpin klasemen pembalap, tetapi juga mengirim sinyal kuat bahwa kolaborasinya dengan Citroën memiliki fondasi teknis dan psikologis yang solid. Jika tingkat kepercayaan dan fleksibilitas strategi ini dapat dipertahankan, kombinasi Cassidy–Citroën berpotensi menjadi kekuatan penentu dalam perebutan gelar Formula E musim ini.

Diskusi & Komentar (0)

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Live Commentary / Indonesia Live Komentar

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

TONTON SEKARANG