Advertisement Sportrik
15s

Max Verstappen Soroti Krisis Red Bull di GP China 2026

Max Verstappen Soroti Krisis Red Bull di GP China 2026
© XPBimages

Formula 1, Sportrik Media - Max Verstappen menghadapi akhir pekan sulit bersama Red Bull Racing setelah sesi Sprint Qualifying Grand Prix China 2026 di Shanghai International Circuit menunjukkan penurunan performa signifikan dibandingkan seri pembuka musim.

Pada Grand Prix Australia di Albert Park sepekan sebelumnya, Verstappen masih menunjukkan potensi kuat. Meski mengalami kecelakaan pada sesi kualifikasi dan memulai balapan dari posisi ke-20, pembalap Belanda itu mampu bangkit hingga finis keenam dan bahkan sempat menekan juara dunia bertahan Lando Norris menjelang akhir balapan. Saat itu hanya Mercedes dan Ferrari yang terlihat memiliki kecepatan lebih baik dari Red Bull.

Namun situasi berubah drastis di Shanghai. Verstappen kesulitan menemukan performa sejak sesi latihan bebas hingga Sprint Qualifying. Juara dunia empat kali itu hanya mampu menempati posisi kedelapan di grid Sprint Race, tertinggal sekitar 1,7 detik dari pole sitter George Russell. Bahkan pembalap Alpine Pierre Gasly berhasil mencatat waktu lebih cepat dari Verstappen.

Lewis Hamilton Akui Ferrari Kalah Tenaga dari Mercedes di China
Baca JugaLewis Hamilton Akui Ferrari Kalah Tenaga dari Mercedes di China

Hasil tersebut memicu kekecewaan dari Verstappen yang menggambarkan performa mobil RB22 sebagai “bencana”. Ia mengeluhkan kurangnya grip sepanjang hari Jumat, disertai masalah graining serta keausan ban yang tinggi. Dalam sesi latihan bebas, ban depan kiri mobilnya bahkan mengalami penurunan performa drastis hanya setelah beberapa lap.

ADVERTISEMENT

Masalah keseimbangan mobil juga menjadi faktor utama, terutama di sirkuit cepat dan teknis seperti Shanghai International Circuit. Kendala handling RB22 tampak lebih signifikan dibandingkan potensi kekurangan tenaga dari unit daya baru yang digunakan Red Bull pada era regulasi terbaru Formula 1.

Tim juga menghadapi tantangan terkait manajemen energi pada power unit. Performa pemulihan energi di tikungan dinilai belum optimal, yang berdampak pada efisiensi penggunaan baterai di lintasan lurus. Kondisi ini terlihat kontras dengan pendekatan Kimi Antonelli bersama Mercedes yang mampu mengelola sistem energi secara lebih efektif sepanjang lap.

Rekaman on-board menunjukkan Antonelli mengatur penggunaan superclipping secara efisien. Meskipun kecepatannya sempat turun di lintasan lurus panjang, ia tetap mempertahankan kecepatan lap lebih baik dibanding para rivalnya. Sebaliknya, Verstappen dan Red Bull kesulitan menjaga performa ketika baterai mulai kehilangan daya.

ADVERTISEMENT

Dengan Sprint Race dan sesi kualifikasi utama masih tersisa pada akhir pekan Grand Prix China, para insinyur Red Bull kini menghadapi tekanan besar untuk menemukan solusi teknis dalam waktu singkat. Tanpa perbaikan signifikan pada keseimbangan mobil dan efisiensi energi, tim diperkirakan akan kesulitan menantang Mercedes dalam jarak balapan penuh di Shanghai.

Diskusi & Komentar (0)

Mari Bergabung dalam Diskusi!

Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.

Proses masuk cepat, aman, dan tanpa ribet.

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Live Commentary / Indonesia Live Komentar

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

TONTON SEKARANG
RECOMMENDED FOR YOU