Formula 1, Sportrik Media - Mantan pembalap Formula 1 sekaligus komentator Martin Brundle membela identitas Formula 1 di tengah kritik terhadap tampilan dan karakter baru mobil menyusul penerapan regulasi teknis terkini yang mulai berlaku musim ini.
Regulasi tersebut memperkenalkan unit daya dan aerodinamika baru, dengan keseimbangan energi 50 persen pembakaran dan 50 persen listrik. Perubahan ini meningkatkan peran sistem kelistrikan secara signifikan, termasuk penggunaan MGU-K berkekuatan 350 kW, naik tajam dari 120 kW pada era sebelumnya, sementara MGU-H resmi dihapus dari regulasi.
Konsekuensinya, manajemen energi kini menjadi faktor penentu, termasuk kewajiban pembalap melakukan lift and coast bahkan pada lap kualifikasi untuk memastikan pelepasan daya baterai maksimal. Selain itu, strategi pemanenan dan penggunaan energi selama balapan menjadi krusial, khususnya dalam konteks menyalip rival di lintasan.
Brundle menilai bahwa tuntutan tersebut bukanlah hal baru dalam sejarah Formula 1. Ia menekankan bahwa sejak era awal kejuaraan, pembalap selalu dituntut untuk mengelola dan melindungi komponen mobil demi mencapai hasil maksimal hingga garis finis.
“Jika Anda melaju flat out dalam waktu lama, Anda harus melindungi sesuatu,” ujar Brundle.
“Hal itu selalu sama, baik pada era Sterling Moss dan Juan Manuel Fangio, maupun Jackie Stewart, Graham Hill, dan Jim Clark.”
“Dulu yang dilindungi adalah dog ring, drive shaft, universal joint, gearbox, mesin, suspensi, dan rose joint.”
Merujuk pada pengalamannya balapan pada era 1980-an dan 1990-an, Brundle menjelaskan bahwa manajemen teknis selalu menjadi bagian inti dari Formula 1, termasuk pada masa turbo ekstrem dengan keterbatasan bahan bakar yang memaksa pembalap mengangkat pedal gas secara agresif sepanjang balapan.
“Kami selalu melindungi kopling dan mesin. Bahkan pada era turbo 1980-an yang brutal, kami mengangkat gas sepanjang balapan karena itu satu-satunya cara untuk mencapai finis,” katanya.
“Saya pernah kehabisan bahan bakar menjelang garis finis di Adelaide dan kehilangan posisi ketiga karena kurang berhati-hati. Jadi selalu ada sesuatu yang harus dilindungi, termasuk ban, terutama di era sekarang.”
Brundle juga menilai bahwa pembalap legendaris seperti Ayrton Senna dan Michael Schumacher justru akan sangat cocok dengan tantangan regulasi baru, mengingat kecerdasan taktis mereka dalam memanfaatkan setiap alat dan sumber daya yang tersedia.
“Ayrton dan Michael akan menyukai mobil-mobil ini, karena mereka memiliki kapasitas untuk menggunakan semua alat yang ada dan bekerja dengan orang-orang yang tahu bagaimana memaksimalkannya,” ujarnya.
“Sekarang, perlindungan universal joint dan komponen mekanis telah bergeser menjadi perlindungan baterai.”
Meski demikian, Brundle mengakui adanya satu kekhawatiran utama, yakni potensi kemudahan menyalip yang berlebihan akibat sistem pelepasan energi, yang justru dapat mengurangi nilai kompetisi balapan jika tidak dikelola dengan tepat.
“Empat atau lima manuver menyalip hebat dalam satu balapan itu luar biasa,” kata Brundle.
“Yang tidak kita inginkan adalah jumlah overtake yang terlihat seperti skor pertandingan basket.”
Secara keseluruhan, Brundle menepis anggapan bahwa Formula 1 telah kehilangan esensinya. Menurutnya, tantangan teknis memang berubah, namun inti kompetisi, kecerdasan pembalap, dan tuntutan manajemen tetap menjadi DNA utama olahraga ini.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!