Lewis Hamilton menghadapi musim paling krusial dalam karier Formula 1-nya bersama Scuderia Ferrari pada 2026, di tengah keyakinan bahwa sang juara dunia tujuh kali masih mampu menampilkan performa “klasik” jika tim mampu memberinya insentif teknis dan struktural yang tepat.

Musim 2025 menjadi debut tersulit dalam karier Hamilton, setelah ia gagal meraih satu pun podium grand prix untuk pertama kalinya sejak memasuki Formula 1. Adaptasi terhadap lingkungan Ferrari berlangsung tidak mulus, dengan sejumlah kendala performa yang memperlihatkan kesenjangan antara potensi mobil dan hasil di lintasan.
Faktor manusia turut memperumit situasi, menyusul berakhirnya kerja sama Hamilton dengan race engineer Riccardo Adami, yang dicopot dari posisinya pekan lalu. Perubahan tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum uji coba tertutup Ferrari di Barcelona, fase penting dalam penyelarasan teknis menjelang musim baru.
Meski demikian, Hamilton tetap mendapat dukungan dari figur berpengaruh dalam perjalanan kariernya. Ross Brawn, sosok yang merekrut Hamilton dari McLaren ke Mercedes pada 2013, menilai potensi kebangkitan sang pembalap masih sangat nyata jika Ferrari mampu menciptakan kondisi internal yang mendukung.
“Saya pikir kita semua ingin melihat dia sukses, dan saya punya tempat khusus untuk Ferrari, tetapi saya juga tahu betapa sulitnya berada di sana,” kata Brawn kepada Sky Sports F1.
“Selalu ada garis tipis antara sebuah tim yang benar-benar menyatu dan tim yang tidak sepenuhnya menyatu, dan tahun lalu itu memang belum menyatu.”
Brawn menekankan bahwa faktor kunci bukan hanya kecepatan mobil, melainkan persepsi peluang dan kejelasan arah yang dirasakan pembalap. Dalam pandangannya, Hamilton masih memiliki kapasitas untuk meningkatkan level performa secara signifikan jika melihat adanya prospek kompetitif yang nyata.
“Namun jika dia mendapatkan insentif, jika dia melihat ada peluang, saya pikir kita akan melihat Lewis versi klasik. Saya berharap itu bisa terjadi.”
Musim 2026 dengan demikian menjadi titik penentuan bagi Hamilton dan Ferrari, baik dari sisi teknis maupun struktural. Keberhasilan menciptakan sinergi baru akan menentukan apakah Ferrari mampu memaksimalkan pengalaman dan naluri juara Hamilton dalam fase berikutnya kejuaraan dunia Formula 1.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!