Esapekka Lappi tidak menyembunyikan kekecewaannya setelah Rally Chile berakhir. Pembalap Finlandia itu finis keenam, tertinggal lebih dari lima menit dari sang juara. Namun yang lebih menyakitkan, ia merasa keputusan Hyundai menurunkannya di putaran Amerika Selatan kedua itu adalah sebuah kesalahan. "Untuk reli ini, saya tahu bahwa memilih saya untuk mobil itu bukan keputusan yang tepat. Saya sudah bilang di Finlandia bahwa mereka seharusnya mengambil Hayden," ujarnya kepada DirtFish.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Dua pekan sebelumnya, Hayden Paddon tampil memukau di Rally Paraguay dengan finis kedua dalam debutnya di atas gravel bersama Hyundai i20 N Rally1. Performa itu seolah menjadi bukti bahwa pembalap Selandia Baru tersebut masih punya tempat di level tertinggi. Lappi pun mengakui, "Jika saja karena dia sudah memiliki Rally Paraguay di bawah ikat pinggangnya, itu akan menjadi keputusan yang lebih alami. Tapi mereka membuat pilihan yang berbeda."
Keputusan Hyundai memang sudah terkunci sebelum Rally Paraguay usai. Entri untuk Rally Chile telah ditutup, sehingga nama Paddon tidak bisa dimasukkan. Situasi ini menciptakan dilema: di satu sisi, tim ingin memberikan kesempatan kepada Lappi untuk unjuk gigi; di sisi lain, momentum Paddon sedang naik. Hasilnya, Lappi harus menelan pil pahit di Chili, sementara Paddon hanya bisa menonton dari jauh.

Bagi Lappi, musim 2026 bersama Hyundai sebenarnya bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan bahwa motivasi utamanya menerima peran tersebut adalah keinginan tampil di Rally Finlandia. "Dari sudut pandang pribadi, saya pikir itu keputusan yang tepat. Saya menikmati banyak hari, jika boleh dibilang begitu," tuturnya. Namun, penampilan di Chili menjadi yang terakhir baginya di mobil Rally1 Hyundai. Kursi ketiga tim untuk putaran berikutnya di Sardinia akan diisi oleh Dani Sordo, dan belum ada keputusan untuk putaran terakhir musim ini.
Pernyataan Lappi ini menyoroti dinamika sulit dalam manajemen pembalap di kejuaraan reli dunia. Hyundai memiliki tiga mobil, tetapi harus memutar pembalap di berbagai putaran. Keputusan mereka sering kali mempertimbangkan faktor finansial, pengalaman, dan performa di permukaan tertentu. Di Chili, kondisi gravel yang keras dan berdebu sebenarnya cocok untuk Paddon yang dikenal cepat di medan seperti itu. Namun, Lappi mendapat kepercayaan, dan hasilnya jauh dari harapan.
Yang menarik, Lappi tidak menyalahkan tim secara langsung. Ia justru mengakui kelemahannya sendiri. "Saya tahu bahwa memilih saya bukan keputusan yang tepat," tegasnya. Ini adalah bentuk kejujuran langka dari seorang pembalap yang biasanya menjaga komentar di depan media. Publik pun bertanya-tanya, apakah ini pertanda akhir kerja sama Lappi dengan Hyundai? Kontraknya memang akan berakhir, dan performa di Chili tidak membantu posisinya.
Di sisi lain, Paddon tetap menjadi sosok yang populer di kalangan penggemar reli. Kiprahnya di Paraguay membuktikan bahwa ia masih bisa bersaing di level atas. Jika Hyundai ingin tampil kuat di sisa musim, mempertimbangkan kembali Paddon untuk putaran terakhir bisa menjadi langkah cerdas. Namun, dengan Sordo sudah diplot untuk Sardinia, peluang itu mungkin tipis. Semua akan bergantung pada hasil evaluasi internal tim.
Pada akhirnya, pernyataan Lappi menjadi cermin betapa kejamnya kompetisi di WRC. Pilihan strategis yang tampak logis di atas kertas bisa berubah menjadi bumerang di lintasan. Dan ketika seorang pembalap sendiri mengakui bahwa rekannya lebih layak, itu adalah sinyal bahwa tekanan di paddock semakin panas menjelang putaran-putaran penutup musim.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!