FIA resmi mengonfirmasi tengah menyelidiki isu kontroversial kepemilikan multi-tim di Formula 1 setelah perdebatan mengenai integritas kompetisi kembali memanas sepanjang musim 2026.
Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem mengungkapkan badan pengatur motorsport dunia kini sedang mengevaluasi aspek etika dan sporting fairness terkait model kepemilikan lebih dari satu tim di Formula 1. Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap struktur kepemilikan Red Bull Racing dan Racing Bulls, serta ketertarikan Mercedes terhadap saham tim Alpine.
Red Bull selama lebih dari dua dekade mengoperasikan dua tim Formula 1, namun independensi kedua organisasi tersebut terus menjadi bahan perdebatan di paddock. Kritik semakin menguat musim lalu setelah mantan prinsipal Racing Bulls, Laurent Mekies, langsung dipromosikan menggantikan Christian Horner di Red Bull hanya beberapa hari setelah pergantian kepemimpinan terjadi.

“Kami sedang mempelajari apakah ini benar-benar hal yang tepat,” ujar Ben Sulayem.
Kontroversi terbaru muncul setelah laporan mengenai minat Mercedes terhadap 24 persen saham Alpine F1 Team. Saham tersebut saat ini dimiliki kelompok investor Otro Capital bersama sejumlah figur publik seperti Ryan Reynolds, Rob McElhenney, Patrick Mahomes, dan Rory McIlroy.
Dari sisi bisnis, nilai saham Alpine disebut meningkat drastis sejak dibeli pada 2023 senilai 200 juta euro dan kini diperkirakan bernilai sekitar 800 juta euro. Situasi tersebut membuka diskusi baru mengenai potensi konflik kepentingan jika pabrikan besar Formula 1 mulai memiliki pengaruh terhadap lebih dari satu tim.
Zak Brown menjadi salah satu tokoh paling vokal menentang sistem multi-team ownership. CEO McLaren itu menilai kepemilikan lintas tim dapat mengancam integritas kompetisi modern Formula 1.
“Kepemilikan bersama hampir dilarang di semua olahraga besar modern karena berisiko mengganggu fairness kompetisi,” kata Brown baru-baru ini.
Dari perspektif regulasi, FIA kini mencoba menentukan batas antara investasi komersial yang dianggap wajar dengan struktur kepemilikan yang berpotensi memengaruhi proses sporting, politik regulasi, hingga distribusi kekuatan voting antar tim.
Ben Sulayem sendiri secara pribadi mengakui dirinya tidak sepenuhnya mendukung model kepemilikan dua tim dalam Formula 1. Menurutnya, isu utama bukan hanya kepemilikan finansial, tetapi juga potensi pengaruh terhadap keputusan olahraga dan regulasi masa depan.
“Jika kita kehilangan sporting spirit, maka dukungan terhadap sistem ini bisa hilang,” jelas Ben Sulayem.
Diskusi mengenai multi-team ownership diperkirakan akan menjadi salah satu isu politik terbesar Formula 1 dalam beberapa musim mendatang, terutama memasuki era regulasi baru 2027 ketika nilai ekonomi tim dan pengaruh manufaktur semakin meningkat.
Dengan FIA kini mulai melakukan evaluasi formal terhadap struktur kepemilikan tim, keputusan yang diambil nantinya berpotensi membawa dampak besar terhadap model bisnis Formula 1 modern serta keseimbangan kompetitif di paddock.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!