Max Verstappen tak pernah merasakan era V8. Tapi ia tahu betul bagaimana mesin itu mengguncang paddock ketika ia masih kecil, berjalan di antara garasi dan pit lane. Dalam wawancara dengan BBC, pembalap Red Bull itu mengungkapkan kerinduannya yang mendalam pada Formula 1 yang dulu: ringan, responsif, dan yang paling penting, berisik.
“Saya ingin merasakan lagi sensasi merinding, suara, dan bulu kuduk berdiri dari mesin V8, seperti yang saya alami saat masih anak-anak,” ujar Verstappen. Ia memang tidak pernah membalap dengan mesin V8—debutnya di F1 pada 2015 sudah menggunakan power unit turbo-hibrida. Tapi sebagai anak paddock, ia tumbuh dengan raungan mesin yang kini tinggal kenangan.
Bagi Verstappen, masalah utama F1 modern bukanlah kecepatan puncak. “Saya tidak peduli apakah kami melaju 300 km/jam atau 350-360 km/jam. F1 harus kembali ke V8, setidaknya untuk masalah pengendalian. Kami butuh mobil ringan yang merespons input pembalap secara instan,” tegasnya. Baginya, bobot mobil yang berat saat ini lebih mengganggu daripada angka top speed.

Ia bahkan menyusun “resep” idealnya sendiri. “Power unit generasi sebelumnya juga mengerikan jika dibandingkan dengan V8, yang merupakan yang terbaik untuk mobil balap. Saya akan mengurangi baterai seminimal mungkin, hanya untuk semacam push-to-pass, dan mengecualikan turbo agar tidak ada masalah turbo-lag,” tambahnya. Visi Verstappen adalah F1 yang kembali ke akar: mesin sederhana, suara nyaring, dan sensasi mentah.

Pernyataan ini bukan sekadar nostalgia. Verstappen, yang telah lama mengkritik arah regulasi F1, seolah menyuarakan kegelisahan banyak penggemar dan pembalap. Era turbo-hibrida memang menghadirkan teknologi canggih, tetapi dianggap mengurangi sensasi balap murni. Mobil menjadi lebih berat, suara lebih halus, dan tantangan fisik berubah.
Red Bull, tim yang dibelanya, saat ini tengah fokus pada pengembangan power unit sendiri untuk 2026. Namun, Verstappen jelas berharap ada perubahan filosofi. “Emosi yang diberikan oleh raungan mobil-mobil di pit ketika saya masih kecil berada di level yang berbeda. Itu membuat bulu kuduk berdiri,” kenangnya. Baginya, F1 harus kembali menjadi tontonan yang menggetarkan, bukan sekadar ajang efisiensi energi.
Apakah keinginan Verstappen akan terwujud? Regulasi 2026 justru akan meningkatkan porsi tenaga listrik dan tetap mempertahankan turbo. Namun, suara pembalap sekelas Verstappen setidaknya menjadi sinyal bahwa ada rindu yang belum terobati. Dan jika ada satu hal yang bisa menyatukan fans dan pembalap, itu adalah suara mesin yang menggelegar.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!