Formula 1, Sportrik Media - Toto Wolff disebut sebagai figur utama di balik lahirnya regulasi power unit baru Formula 1 2026 oleh pendiri Formula E, Alejandro Agag, di tengah meningkatnya kritik terhadap arah teknis olahraga tersebut.
Regulasi baru F1 mengadopsi konsep pembagian tenaga 50/50 antara mesin pembakaran internal dan energi listrik, yang memicu perdebatan luas di paddock. Sejumlah pembalap, termasuk Max Verstappen dan Lando Norris, secara terbuka mengkritik pendekatan tersebut karena dianggap mengurangi karakter balap tradisional Formula 1.
Agag mengaitkan perubahan regulasi ini dengan keterlibatan Mercedes dalam Formula E pada periode sebelumnya. Pabrikan asal Jerman tersebut berkompetisi sebagai tim pabrikan selama tiga musim dan berhasil meraih gelar juara dunia pembalap dan tim secara beruntun sebelum keluar dari kejuaraan listrik tersebut pada 2022.

Menurut Agag, keputusan Mercedes meninggalkan Formula E bukan semata strategi keluar, melainkan bagian dari rencana untuk mengadopsi teknologi listrik ke dalam Formula 1. Ia menilai Wolff memainkan peran sentral dalam mendorong integrasi konsep tersebut ke dalam regulasi baru F1.
“Ketika Mercedes meninggalkan Formula E, itu karena mereka ingin membawa apa yang ada di sana ke Formula 1,” ujar Agag kepada Marca.
Ia menambahkan bahwa Wolff memanfaatkan pengalamannya di Formula E untuk mendorong arah regulasi yang kini diterapkan di F1, menciptakan pendekatan hibrida yang menurutnya mendekatkan karakter kedua kejuaraan.
“Kekuatan utama di balik apa yang kita lihat di Formula 1 saat ini adalah Mercedes dan Toto Wolff. Dia melihat apa yang ada di sini dan ingin menggabungkannya ke dalam Formula 1,” lanjutnya.
Agag juga menilai bahwa pendekatan tersebut memberikan keuntungan kompetitif bagi Mercedes karena mereka telah memiliki pengalaman lebih awal dalam teknologi yang kini menjadi dasar regulasi baru. Ia mengindikasikan adanya potensi ketimpangan performa akibat kesiapan teknis yang tidak merata di antara tim.
Selain itu, Agag mengkritik arah filosofis regulasi F1 saat ini yang dinilai berada di antara dua identitas: tidak sepenuhnya mempertahankan karakter mesin pembakaran tradisional, namun juga tidak sepenuhnya menjadi kejuaraan listrik seperti Formula E.
“Saya tidak pikir ini baik untuk Formula 1. Olahraga ini seharusnya kembali ke mesin pembakaran, seperti V8, dengan suara yang lebih besar, dan membiarkan Formula E tetap sebagai kejuaraan listrik,” tegasnya.
Pernyataan ini menambah lapisan baru dalam perdebatan mengenai arah masa depan Formula 1, khususnya terkait keseimbangan antara inovasi teknologi dan identitas olahraga. Dengan regulasi baru yang mulai diterapkan, dampak jangka panjang terhadap kompetisi dan daya tarik F1 akan terus menjadi sorotan sepanjang musim 2026.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!