Persaingan MotoGP 2025 diprediksi akan terus berjalan sengit hingga akhir musim. Davide Tardozzi, manajer tim Ducati, meyakini bahwa keunggulan akan bergantian antara Aprilia dan Ducati tergantung pada karakteristik sirkuit. Setelah tiga seri awal didominasi Aprilia, Ducati membalas lewat double podium di Jerez. Pola ini terus berlanjut: Le Mans milik Aprilia, Catalunya milik Ducati, Mugello milik Aprilia, lalu Balaton dan Brno untuk Ducati, sebelum Assen kembali ke Aprilia, Sachsenring untuk Ducati, dan Silverstone yang menjadi milik Aprilia.
Menjelang balapan utama di Silverstone, Tardozzi mengungkapkan pandangannya kepada reporter pit lane MotoGP, Jack Appleyard. "Akan seperti ini: akan ada sirkuit Aprilia dan sirkuit Ducati menjelang akhir musim," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan dinamika musim yang belum menunjukkan dominasi tunggal, membuat setiap seri menjadi medan pertarungan yang tidak bisa diprediksi.
Di klasemen pembalap, situasinya bahkan lebih dramatis. Keempat pembalap Aprilia mengalami setidaknya satu DNF dalam lima seri terakhir. Marc Marquez, juara bertahan Ducati, memanfaatkan peluang ini dengan memangkas defisit 102 poin menjadi hanya 18 poin setelah Sachsenring. Namun, Sprint di Silverstone menjadi kejutan pahit: Marquez finis kesembilan setelah ban mengalami penurunan performa ekstrem.

"Kami tidak menduga masalah besar ini. Kami pikir bisa bersaing untuk posisi empat, lima, atau enam, bukan kesembilan," kata Tardozzi. Ia menegaskan bahwa masalah ini harus segera diatasi agar tidak terulang. Meski balapan utama berjalan lebih baik, Marquez hanya mampu finis ketujuh sebagai pembalap Ducati terbaik ketiga, mengumpulkan 10 poin dari total 37 yang tersedia di Silverstone. Akibatnya, ia kini tertinggal 40 poin dari pemimpin klasemen Aprilia, Jorge Martin.
Tardozzi menekankan bahwa strategi juara bukan sekadar memenangi semua balapan. "Untuk memenangkan kejuaraan, tidak perlu menang di semua seri. Yang penting mengumpulkan poin sebanyak mungkin saat tidak tercepat, dan menyerang saat kita tercepat," jelasnya. Filosofi ini terlihat jelas dalam pendekatan Ducati yang konsisten meski tidak selalu dominan.
Seri berikutnya di Aragon diprediksi menjadi ajang kebangkitan Marquez dan Ducati, yang telah memenangi empat balapan terakhir di sirkuit tersebut. Namun, Misano yang menjadi tuan rumah bagi kedua pabrikan akan menjadi ujian lain. Musim lalu, kemenangan di Misano terbagi antara Marquez dan Marco Bezzecchi. Setelah itu, rangkaian seri luar negeri di Jepang, Indonesia, Australia, dan Malaysia akan menjadi tantangan tersendiri karena karakternya yang sulit diprediksi.
Dengan persaingan yang ketat dan banyaknya variabel, paruh kedua musim menjanjikan pertarungan sengit. Akankah Ducati mampu mempertahankan momentum atau Aprilia justru merebut kendali? Semua akan terjawab di lintasan.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!