Lebih dari lima tahun setelah pensiun dari MotoGP, nama Valentino Rossi masih terus menghiasi paddock—kali ini bukan lewat aksinya di trek, melainkan melalui penilaian dari salah satu insinyur suspensi paling berpengalaman di dunia. Jonas Torstensson, manajer balap motor Ohlins, mengungkapkan bagaimana The Doctor punya kepekaan luar biasa terhadap motor, sesuatu yang sulit ditemukan pada pembalap lain.
Dalam wawancara dengan Marca.com, Torstensson menuturkan bahwa Rossi memiliki kemampuan langka untuk 'mendengarkan' motornya. "Ketika dia naik motor, motor itu berbicara kepadanya, dan dia bisa menerjemahkannya untuk memberi tahu para insinyur apa yang perlu dilakukan agar motor cepat," ujarnya. Ini bukan sekadar pujian kosong; Ohlins telah mengumpulkan data dan masukan dari puluhan pembalap sejak meraih gelar 500cc pertama dengan Eddie Lawson pada 1984.
Berbeda dengan Rossi, Marc Marquez justru dikenal karena kemampuannya beradaptasi dengan masalah. Torstensson menceritakan momen ketika mereka membawa komponen baru, dan Marquez langsung mencatat waktu fantastis. "Kami pikir, 'Wow, barang ini benar-benar bagus.' Tapi dia kembali dan berkata, 'Tidak, saya tidak suka.' Kami tanya, 'Lalu kenapa kamu begitu cepat?' Dia menjawab, 'Saya hanya mendorong lebih keras,'" kenangnya. Kemampuan Marquez untuk tampil cepat meski setting tidak ideal menjadi ciri khasnya yang membuat para insinyur sering tercengang.

Torstensson juga membandingkan Pecco Bagnaia dengan Marquez. Menurutnya, keduanya sama-sama sensitif, tetapi dengan cara yang berbeda. "Pecco sering dikritik karena terlalu sensitif, tapi dari sudut pandang saya, dia pembalap yang hebat; saat kami menguji sesuatu, dia benar-benar tahu cara mendefinisikannya, dan umpan baliknya sangat bagus. Dia juga sensitif dalam arti lain; dia perlu setup yang tepat untuk bisa cepat. Sebagai insinyur, itu hal yang sangat baik," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Torstensson juga membahas kontribusi Joan Mir dan Suzuki dalam pengembangan suspensi belakang Ohlins yang kini dipakai semua pabrikan. Pada musim 2020 yang diwarnai pandemi, Suzuki berhasil mengadaptasi shock belakang baru dengan cepat berkat kerja sama apik antara Mir dan test rider Sylvain Guintoli. "Mereka menyelesaikan pengembangan sangat awal. Tentu saja mereka tidak menang hanya karena ini, karena motor secara keseluruhan brilian dan Mir juga pembalap yang sangat baik... tapi ini membantu, dan bagian itu masih dipakai sampai sekarang," ungkap Torstensson.
Saat ini, Ohlins memasok suspensi ke semua pabrikan MotoGP kecuali KTM yang menggunakan WP dari internal. Terakhir kali gelar juara diraih tanpa suspensi Ohlins adalah Nicky Hayden pada 2006 dengan Showa di Honda—sebuah catatan yang menunjukkan dominasi Ohlins dalam dua dekade terakhir. Dengan pengalaman 20 tahun di paddock, Torstensson telah menyaksikan pasang surut para legenda, dan kini ia berbagi cerita yang memperkaya wawasan kita tentang detail teknis yang sering luput dari perhatian.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!