SPONSORED

Ralf Schumacher Kenang Warisan Michael di Ferrari dan Tekanan Monza

Notifikasi
0
Ralf Schumacher Kenang Warisan Michael di Ferrari dan Tekanan Monza
TO NEWS OVERVIEW
Ralf Schumacher Kenang Warisan Michael di Ferrari dan Tekanan Monza

Ralf Schumacher membuka suara tentang warisan abadi kakaknya, Michael Schumacher, di Formula 1. Momen ini terasa istimewa karena GP Italia di Monza tahun ini menandai 30 tahun sejak The Red Baron pertama kali membalap untuk Ferrari, sekaligus 20 tahun sejak kemenangan emosionalnya pada 2006 yang diikuti pengumuman pensiun perdananya.

Berbicara kepada Sky Sports F1, Ralf mengaku larut dalam nostalgia saat menonton kembali cuplikan kejayaan Michael di sirkuit secepat itu. “Ya, ini sangat emosional. Kita cenderung melupakan banyak hal karena waktu terus berjalan, F1 bergerak sangat cepat, semuanya terjadi begitu singkat. Tapi melihat semua gambar itu lagi mengingatkanmu pada apa yang dia raih. Dia adalah salah satu yang terbesar sepanjang masa,” ujarnya.

Ralf juga menyoroti kemampuan Michael tampil di bawah tekanan, terutama saat tiba di Monza 2006 dengan kemungkinan besar akan mengumumkan pensiun, lalu tetap bisa menang. “Itu sulit. Tapi dia selalu semakin baik saat tekanan meningkat. Dan di Ferrari, seperti yang kita lihat sekarang, semua pembalap dan bahkan prinsipal tim merasakan tekanan luar biasa karena emosi para tifosi dan seluruh Italia. Brand ini luar biasa, saya belum pernah merasakan hal seperti itu di F1,” kenangnya.

Russell Downplays Favorites Tag: Ferrari Still the Team to Beat
Read AlsoRussell Downplays Favorites Tag: Ferrari Still the Team to Beat

Bagi Ralf, Michael bukan sekadar kakak, melainkan satu-satunya idolanya. “Saya selalu ditanya, siapa idola pribadi Anda? Saya tidak pernah punya idola selain kakak saya. Kami terpaut enam setengah tahun, tetapi semua yang saya tahu tentang balap, dia yang mengajari,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa kekuatan Michael terletak pada kemampuannya membangun tim: “Dia salah satu pembalap pertama yang memberi 100 persen dan percaya pada diri sendiri, tapi tidak melupakan orang-orang di sekitarnya. Itu kekuatannya—mampu membuat tim memberikan segalanya, dan sebaliknya.”

ADVERTISEMENT

Ralf juga menyoroti gaya kepemimpinan Michael yang personal, seperti diungkapkan James Vowles: “Dia tahu setiap individu di dalam tim.” Terakhir, ia mengenang kemenangan pertama Michael bersama Ferrari pada 1996 yang terjadi di tengah tekanan tinggi. “Itu tahun yang sangat sulit bagi mereka semua karena ekspektasi sangat besar. Saya ingat saat Michael dan saya duduk di dapur, dan dia bercerita tentang betapa beratnya balapan di Monza dengan tekanan sebesar itu. Tapi justru di sanalah dia menunjukkan kelasnya,” pungkas Ralf.

Discussion (0)

Join the Discussion!

Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.

Fast, secure, and hassle-free

Latest Comments

No comments yet. Be the first!

RECOMMENDED FOR YOU