Masa pensiun dari ajang Formula 1 menyisakan emosi mendalam bagi Daniel Ricciardo, yang belum lama ini secara terbuka membahas beban mental serta perasaan gagal yang menderanya setelah meninggalkan paddock balap jet darat paling bergengsi di dunia tersebut.
Pembalap asal Australia yang mengawali debut gridnya pada musim 2011 ini menjelma menjadi salah satu figur paling ikonik dan dicintai para penggemar global. Dikenal lewat julukan Honey Badger serta popularitas masif yang turut mendongkrak serial dokumenter Netflix, perjalanan kariernya di atas lintasan justru diwarnai dinamika naik turun yang sangat dramatis.
Sepanjang karier profesionalnya di kasta premier motorsport, pembalap kelahiran Perth tersebut sukses mengoleksi delapan kemenangan Grand Prix serta 24 podium tambahan. Masa-masa kejayaan terbesarnya diraih saat memperkuat Red Bull, termasuk kemenangan monumental di Monako sekaligus menjadi rekan setim tangguh bagi Max Verstappen.

Namun, keputusan hengkang demi memburu ambisi gelar juara dunia justru membawanya pada fase sulit bersama McLaren. Meski sempat mempersembahkan satu kemenangan sensasional di Monza, ia kesulitan menemukan performa terbaiknya sebelum akhirnya posisikan digantikan oleh kompatriot mudanya.
Berbicara secara eksklusif dalam siniar F1 Beyond the Grid, ia mengakui bahwa standar tinggi yang dipatok sejak usia dini berbalik menjadi tekanan psikologis yang sangat kejam terhadap diri sendiri ketika performanya mulai merosot tajam menjelang akhir kariernya.
"Anda mulai membalap di usia yang begitu muda, dan selama bertahun-tahun Anda membangun ketegasan, tetapi itu juga tertuju ke dalam diri sendiri. Anda tahu, Anda bisa sangat keras pada diri sendiri dan menuntut banyak dari diri sendiri," ungkapnya mengenang masa-masa penuh tekanan tersebut.
Perasaan meninggalkan olahraga yang telah digelutinya seumur hidup memicu kekecewaan personal yang mendalam, di mana ia sempat merasakan stigma kegagalan karena tidak mampu menuntaskan musim secara penuh sesuai ekspektasi performa tertingginya.
"Saya pikir pandangan saya saat itu adalah saya gagal, tidak tampil pada level yang saya butuhkan pada saat itu atau tidak dapat menyelesaikan musim atau apa pun. Rasanya seperti sebuah penghinaan, seperti saya gagal dan saya tidak melakukan apa yang dulu bisa saya lakukan," tambahnya.
Di balik senyuman dan kemunculannya di ruang publik yang tampak menikmati waktu luang bersama segelas minuman, ia mengaku hal tersebut hanyalah bentuk pelarian untuk menutupi rasa sakit serta kesedihan teramat dalam di lubuk hatinya.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!