Menyongsong akhir pekan balap yang penuh gengsi di ajang balap ketahanan ikonik, Broc Feeney secara resmi mempertontonkan tampilan visual yang sarat emosi pada hari Kamis. Pebalap muda berusia 23 tahun tersebut mempersiapkan diri secara intensif untuk menghadapi tantangan di atas aspal pegunungan bersama rekan setim barunya yang juga berpengalaman, Nick Percat. Kehadiran Percat di dalam skuad musim ini menggantikan posisi yang sebelumnya diisi oleh legenda hidup balap turing Australia, Jamie Whincup, yang kini memilih untuk mundur dari peran sebagai perenang kokpit demi memfokuskan seluruh energinya pada tanggung jawab manajerial sebagai direktur pelaksana di kubu Triple Eight.
Kisah di balik livery khusus ini berakar dari momen historis dua dekade silam ketika Whincup meraih kemenangan perdananya di ajang Mount Panorama yang sangat emosional pada musim 2006. Saat itu, kemenangan tersebut diraih saat ia bertindak sebagai pembalap pendukung bagi sang maestro Craig Lowndes, dalam sebuah akhir pekan yang dibayangi oleh suasana duka mendalam menyusul kepergian tragis legenda motorsport Peter Brock. Mengingat perjalanan waktu yang telah menginjak dua puluh tahun, Feeney merasa terpanggil untuk menghadirkan kembali memori kejayaan tersebut langsung ke hadapan para penggemar setia di paddock.
Dalam sebuah video interaktif yang diunggah melalui platform media sosial, Feeney menjelaskan kepada Whincup mengenai dedikasi di balik desain anyar tersebut. Mengingat ini adalah tahun pertama bagi sang mentor untuk tidak lagi berbagi kemudi di sisinya, Feeney berinisiatif menyampaikan apresiasi mendalam melalui sentuhan retro yang mengadopsi gaya visual dua puluh tahun lalu. Desain ulang tersebut tampil memukau dengan balutan warna biru, merah, dan kuning yang ikonik, serta dipermanis dengan sisipan gambar-gambar autentik dari podium tahun 2006 yang melekat erat pada sejarah balap mobil touring.

Menanggapi penghormatan emosional tersebut, Whincup menyambut hangat kembalinya skema warna legendaris yang pernah membesarkan namanya di masa lampau. Dengan nada bercanda khas paddock, ia mengapresiasi gestur penghormatan dari sang penerus generasi di timnya. Aksi saling lempar canda ini menunjukkan keakraban sekaligus rasa hormat lintas generasi yang terjalin erat di dalam struktur tim, menegaskan bahwa warisan masa lalu tetap dijaga dengan penuh kehormatan di tengah ketatnya persaingan era modern.
Tidak ketinggalan, Craig Lowndes yang tampil sebagai pebalap wildcard bersama Team 18 turut ambil bagian dalam demam nostalgia akhir pekan ini dengan mengenakan helm khusus. Desain helm tersebut merayakan tiga dekade sejak kemenangan perdana Lowndes di Bathurst 1000, mengembalikan kombinasi warna putih, merah, dan akuatik yang sempat ditinggalkan ketika ia membalap di bawah panji Red Bull. Lowndes menyatakan kepada Speedcafe bahwa pemilihan warna ini dilakukan setelah mereka berencana merancang helm baru untuk rangkaian balap enduro, yang kemudian berkembang menjadi proyek replika helm bersejarah dari tahun 1996.



Discussion (0)
Join the Discussion!
Sign in easily to start commenting, replying, and interacting with other readers.
Latest Comments
No comments yet. Be the first!