Pemimpin klasemen sementara Jorge Martin terpaksa merelakan posisi terdepan dalam balapan Sprint GP Mandalika setelah menghadapi masalah teknis krusial terkait regulasi tekanan ban depan motornya. Memulai dari posisi kelima di grid, bintang Aprilia ini berhasil melesat menghindari kekacauan tikungan pertama untuk merebut pimpinan balapan.
Keunggulan sempat dibangun dengan nyaman oleh pebalap Spanyol tersebut atas rival utama kejuaraan dunia, Marc Marquez. Namun, situasi berubah drastis ketika balapan menyisakan lima putaran lagi dan Martin secara tak terduga mengendurkan kecepatan serta membiarkan pebalap Ducati tersebut mengambil alih posisi pertama.
Dilansir dari Crash.net, Martin mengonfirmasi usai balapan bahwa dirinya berada dalam ancaman gagal memenuhi aturan minimum tekanan ban MotoGP. Kondisi ini memaksanya mencari cara meningkatkan temperatur ban depan dengan cara membuntuti motor rival terdekatnya dari belakang. "Saya tidak melakukan start dengan hebat, tetapi ada empat pembalap di tikungan pertama, jadi sangat mudah bagi saya memimpin," ujar Martin kepada awak media.

"Lalu saya mencoba menekan, dan saya mampu membuat jarak yang jauh dari Marc. Dari titik itu saya hanya mencoba mengatur jarak. Tapi kemudian saya menyadari bahwa saya berada di bawah [tekanan] ban. Saya hanya mencoba menekan lebih keras, mencoba memanaskan ban depan sedikit lagi, namun saya tidak masuk ke zona aman, bisa dibilang," tambahnya menjelaskan situasi pelik tersebut.
Rencana untuk melakukan serangan balik pada lap terakhir gagal total ketika Martin kehilangan cenggrahan roda belakang motor RS-GP miliknya dan melebar di tikungan. Kesalahan fatal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Ai Ogura dan Fabio di Giannantonio untuk menyalip, memaksa sang pebalap Aprilia puas finis di posisi keempat.
Regulasi MotoGP mewajibkan para pebalap menjaga tekanan ban tetap di atas batas minimum selama 30 persen durasi balapan Sprint, atau mereka harus menerima hukuman penalti delapan detik setelah balapan selesai. Meski demikian, Martin membantah timnya mengambil risiko berlebihan dengan kalkulasi tekanan ban sejak awal.
"Terkadang hal itu terjadi. Itu tidak sering terjadi pada saya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi hari jadi salah satu hari itu. Jadi ini tentu saja sesuatu yang perlu kami periksa, karena hari ini mungkin dengan [bar lebih tinggi] 0,1 saya bisa menang dan tidak mendapat masalah," tegasnya.
Meski kehilangan kemenangan di depan mata, Martin tetap optimis menatap balapan utama hari Minggu di Sirkuit Mandalika untuk merebut kembali tahta pimpinan klasemen sementara. "Saya memiliki peluang besar untuk besok, dan saya cepat, jadi ini adalah hal yang paling penting. Saya bisa memimpin dengan percaya diri tinggi," pungkasnya.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!