Formula 1, Sportrik Media - Daniel Ricciardo mengungkapkan bahwa kariernya di Formula 1 berpotensi berakhir lebih cepat jika ia tetap bertahan bersama Red Bull Racing setelah musim 2018, terutama dengan meningkatnya dominasi Max Verstappen di dalam tim.
Pembalap asal Australia tersebut menegaskan bahwa keputusannya meninggalkan Red Bull untuk bergabung dengan Renault pada 2019 bukanlah bentuk menghindari persaingan. Ia menilai keputusan tersebut lebih didorong oleh pertimbangan dinamika internal tim dan arah masa depan yang ia lihat saat itu.
Ricciardo mencatatkan delapan kemenangan dalam 257 start sepanjang kariernya di Formula 1 antara 2011 hingga 2024, dengan mayoritas kemenangan diraih bersama Red Bull. Ia mengakhiri kariernya setelah musim 2024 dan kini menjalani peran sebagai duta untuk Ford, yang menjadi mitra mesin Red Bull untuk regulasi 2026.

Berbicara kepada The Athletic, Ricciardo mengakui adanya kemungkinan bahwa ia akan kesulitan menghadapi Verstappen jika tetap bertahan di Red Bull dalam jangka panjang.
“Ada skenario di mana Max benar-benar menghancurkan saya seiring berjalannya waktu, dan mungkin karier saya berakhir lebih cepat. Saya tidak tahu,” ujarnya.
“Pada saat itu, kami kompetitif satu sama lain dan saling mendorong. Tapi sulit untuk menyangkal bahwa Max adalah Max.”
Ia juga menepis narasi bahwa kepindahannya ke Renault merupakan bentuk menghindari duel langsung dengan Verstappen.
“Saya tidak merasa sedang lari dari pertarungan. Saya lebih khawatir tentang bagaimana situasi tim akan berkembang ke depan, terutama soal dinamika internal,” jelas Ricciardo.
Meski demikian, ia tidak menyebut keputusan tersebut sebagai penyesalan, melainkan sebuah tanda tanya besar dalam kariernya.
“Saya tidak akan menyebutnya sebagai penyesalan, tapi itu tetap menjadi sebuah rasa penasaran tentang bagaimana hasilnya jika saya bertahan,” tambahnya.
Setelah meninggalkan Red Bull, Ricciardo sempat membela Renault—yang kini berkompetisi sebagai Alpine—sebelum bergabung dengan McLaren. Kemenangan terakhirnya di Formula 1 terjadi pada Grand Prix Italia 2021 di Monza bersama McLaren.
Sementara itu, Verstappen melanjutkan dominasinya dengan meraih empat gelar juara dunia secara beruntun antara 2021 hingga 2024. Sejak kepergian Ricciardo, Red Bull juga mengalami rotasi pembalap pendamping Verstappen, dengan beberapa nama silih berganti mengisi kursi tersebut.
Ricciardo juga mengungkapkan bahwa ia merasa “bersyukur” ketika akhirnya dilepas oleh tim Racing Bulls pada 2024, karena keputusan tersebut membantunya menentukan akhir karier tanpa harus mengambil keputusan sulit secara pribadi.
“Saya sudah dilepas dua kali dalam dua tahun terakhir, dan itu sangat menguras energi. Saya sudah memberikan banyak dari diri saya dan merasa sangat lelah,” katanya.
“Jika saya refleksikan, saya justru bersyukur mereka membuat keputusan itu untuk saya. Akan sulit jika saya harus mengatakan sendiri bahwa saya sudah selesai.”
Dengan refleksi tersebut, Ricciardo menutup kariernya sebagai salah satu pembalap paling menonjol di era modern Formula 1. Perjalanan kariernya kini menjadi bagian penting dalam dinamika perubahan grid menuju era regulasi baru 2026, di mana Red Bull akan memasuki fase baru bersama Ford sebagai mitra mesin.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!