Moto3, Sportrik Media - Veda Ega Pratama mulai menunjukkan tanda-tanda sebagai salah satu pembalap paling berkembang di Moto3 2026 setelah kembali tampil kompetitif pada kualifikasi Moto3 Prancis di Le Mans.
Start posisi keenam mungkin belum terlihat spektakuler jika dibanding perebutan pole position. Namun secara teknis dan performa keseluruhan, hasil tersebut menunjukkan perkembangan yang sangat penting bagi pembalap Honda Team Asia tersebut.

Le Mans bukan sirkuit yang mudah untuk pembalap rookie penuh Moto3. Karakter stop-and-go, pengereman keras, serta kebutuhan menjaga corner speed membuat lintasan Prancis sangat sensitif terhadap kesalahan kecil. Dalam kondisi seperti itu, Veda justru mampu langsung lolos ke Q2 dan bertarung di grup depan.

Yang paling menonjol bukan hanya posisi grid, tetapi cara Veda membangun lap time. Pada beberapa sektor, terutama pengereman dan akselerasi keluar tikungan lambat, ia mulai terlihat mampu mengikuti ritme pembalap papan atas seperti Adrian Fernandez dan Maximo Quiles.
Perkembangan ini cukup berbeda dibanding awal musim ketika Veda masih terlihat kesulitan menjaga konsistensi tyre management dan ritme dalam long run. Kini, pembalap Indonesia itu mulai lebih stabil menjaga performa dalam satu sesi penuh.
Secara mental, peningkatan Veda juga terlihat jelas. Dalam beberapa musim terakhir, banyak pembalap Asia mengalami kesulitan menghadapi tekanan Moto3 karena kategori ini sangat agresif dan detail kecil bisa menentukan posisi hingga belasan grid sekaligus. Namun Veda mulai terlihat nyaman bertarung di kelompok depan tanpa kehilangan kontrol agresivitasnya.
Dari sisi teknis, adaptasi terhadap karakter Honda NSF250RW juga mulai membaik. Veda terlihat lebih halus saat corner entry dibanding beberapa seri awal. Hal tersebut penting karena Moto3 modern sangat bergantung pada rolling corner speed dan kestabilan saat perubahan arah cepat.
Momentum ini membuat perhatian publik Indonesia terhadap Veda meningkat drastis. Dalam beberapa pekan terakhir, antusiasme penggemar MotoGP Indonesia terhadap Moto3 mulai tumbuh karena Veda dianggap memiliki peluang realistis menjadi pembalap Indonesia pertama yang benar-benar kompetitif di jalur menuju grand prix level tertinggi.
Meski demikian, tantangan terbesar Veda masih terletak pada konsistensi race pace dan manajemen grup saat balapan berlangsung. Moto3 dikenal sangat sulit diprediksi karena slipstream dan pertarungan pack racing bisa mengubah hasil hanya dalam satu lap terakhir.
Jika mampu menjaga tren perkembangan ini sepanjang musim Eropa, Veda berpotensi mulai rutin bertarung untuk podium pada paruh kedua Moto3 2026. Le Mans kini menjadi salah satu indikator paling jelas bahwa kecepatannya bukan lagi sekadar kejutan sesaat.



























Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!