Pakar Analisis Respons Oscar Piastri setelah ‘Blunder Sendiri’ McLaren – Media Internasional Ikut Bereaksi

Pakar Analisis Respons Oscar Piastri setelah ‘Blunder Sendiri’ McLaren – Media Internasional Ikut Bereaksi
Pakar Analisis Respons Oscar Piastri setelah ‘Blunder Sendiri’ McLaren – Media Internasional Ikut Bereaksi

Formula 1, Sportrik MediaMax Verstappen memanfaatkan kesalahan strategi McLaren di Grand Prix Qatar 2025 untuk merebut kemenangan di Sirkuit Lusail International Circuit, memicu reaksi beragam dari media global yang menyoroti blunder lap ketujuh, dinamika gelar tiga pembalap, dan kontroversi di paddock.

Kemenangan Verstappen menciptakan pergeseran 14 poin di klasemen pembalap, menempatkannya sebagai penantang terdekat Lando Norris dengan selisih 12 poin, sementara Oscar Piastri turun ke posisi ketiga dengan 16 poin tertinggal. Media Inggris seperti The Times menekankan dampaknya, dengan judul "McLaren gaffe costs Norris — and allows Verstappen to 'fight to the end'", mengutip radio tim Red Bull di mana insinyur Gianpiero Lambiase memotivasi Verstappen: "We will fight to the end, mate." Analisis mendalam menunjukkan bahwa keputusan McLaren untuk tidak mempit kedua pembalap di bawah safety car—akibat tabrakan Nico Hulkenberg dan Pierre Gasly—memberikan keuntungan 25 detik kepada rival, mengingat aturan stint ban maksimal 25 lap.

 

Sementara itu, koran Belanda De Telegraaf berfokus pada pengumuman lineup Red Bull Racing untuk 2026, yang dijadwalkan Selasa 2 Desember. Laporan menyebut Isack Hadjar akan menjadi rekan baru Max Verstappen, menggantikan Yuki Tsunoda yang kesulitan sejak promosi di ronde ketiga, sementara Liam Lawson dan Arvid Lindblad di Racing Bulls. Kepala tim Laurent Mekies menekankan pentingnya performa Tsunoda di Abu Dhabi untuk mendukung Verstappen, yang kini bergantung pada poin terakhir. Prospek ini mencerminkan strategi Red Bull di bawah penasihat Helmut Marko, yang memprioritaskan talenta junior meski memicu kontroversi.

 

Di Spanyol, El País menyebut blunder McLaren sebagai "own goal" yang memperpanjang perebutan gelar ke Abu Dhabi, di mana finis ketiga sudah cukup bagi Norris. CEO Zak Brown dan kepala tim Andrea Stella meminta maaf atas kegagalan antisipasi pit massal, meskipun tim tetap memimpin konstruktur. Media Italia La Gazzetta dello Sport memuji strategi Red Bull, menyoroti peran insinyur strategi Hannah Schmitz yang bertahan pada rencana pit lap ketujuh meski tim ragu saat McLaren bertahan. "Obviously, on that in lap, we're hearing 'McLaren are staying out'. Everyone was like, 'Are you sure?' I said, 'Yes, I really think so'," ujar Schmitz pasca-balapan. Keputusan ini, yang direncanakan pra-balapan, memanfaatkan jendela safety car untuk mengalahkan degradasi ban rendah di Lusail.

ADVERTISEMENT

 

Kontroversi lain datang dari kesalahan akhir Kimi Antonelli, yang membiarkan Norris naik ke posisi keempat, memicu tuduhan dari Marko bahwa itu disengaja—sehingga Wolff menyebutnya "brainless". Media Jerman BILD melaporkan eskalasi perseteruan Mercedes-Red Bull, dengan Antonelli menerima ancaman kematian dan pelecehan online. FIA merilis pernyataan mendukung Antonelli melalui kampanye United Against Online Abuse: "The FIA condemns abuse and harassment in any form... We stand in support of Kimi Antonelli." Red Bull juga meminta maaf, mengonfirmasi kesalahan itu tidak disengaja, sementara Mercedes melaporkan lebih dari 1.100 komentar toksik.

 

Puncaknya, Herald Sun Australia menganalisis pelukan Brown kepada Piastri pasca-balapan melalui pakar perilaku Dr. Mahler, yang menyimpulkan: "He’s normally very calm... what he’s doing here is an incredible reaction; he must be absolutely furious. He won’t reciprocate the hug, looking bottom left... bears his bottom teeth, which is enormous aggression." Analisis ini menyoroti kemarahan tersembunyi Piastri, yang mengatakan "can’t ask for more than that" atas permintaan maaf, meski kehilangan kemenangan setelah dominasi akhir pekan. Opini di X memperkuat polarisasi, dengan penggemar menuduh "papaya rules" McLaren merugikan Piastri.

 

Reaksi global ini menegaskan betapa blunder Qatar mengubah narasi akhir musim, dari dominasi McLaren ke pertarungan epik di Abu Dhabi. Dengan Pirelli mendukung degradasi rendah di Yas Marina, prospeknya menjanjikan balapan penentu yang kompetitif. Pantau terus analisis mendalam di Sportrik.com.

Diskusi & Komentar (0)

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Live Commentary / Indonesia Live Komentar

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

TONTON SEKARANG
RECOMMENDED FOR YOU