Max Verstappen membela George Russell setelah pole position kontroversial pada kualifikasi Grand Prix Austria 2026. Pembalap Red Bull itu menilai Russell hanya memaksimalkan regulasi yang berlaku ketika melewati lokasi kecelakaannya.
Perdebatan muncul karena insiden Verstappen pada putaran terakhir Q3 hanya menghasilkan satu bendera kuning di Red Bull Ring. Berdasarkan prosedur tersebut, pembalap diwajibkan mengurangi kecepatan, tetapi masih diperbolehkan menyelesaikan putaran dan mempertahankan catatan waktunya.
Russell mengangkat pedal gas di sektor yang terdampak, tetapi tetap memperbaiki catatan waktunya dan merebut pole position. Verstappen tidak mempersoalkan tindakan pembalap Mercedes tersebut karena seluruh prosedur yang diwajibkan telah dipenuhi.

“Pembalap tentu akan mengoptimalkan situasi tersebut dan menurut saya itu permainan yang adil. Saya mungkin juga akan mencoba melakukan hal yang sama,” kata Verstappen kepada media menjelang Grand Prix Inggris.
Keberatan Verstappen justru diarahkan kepada keputusan jenis bendera yang digunakan. Menurutnya, kondisi mobil yang mengalami kecelakaan seharusnya minimal memicu bendera kuning ganda atau bahkan penghentian sesi dengan bendera merah.
“Hal seperti itu seharusnya tidak memungkinkan pembalap menyelesaikan putarannya. Itulah kekhawatiran utama saya dalam seluruh persoalan ini,” ujarnya.
Bendera kuning ganda akan mengharuskan pembalap mengurangi kecepatan secara signifikan dan, berdasarkan penerapan yang dijelaskan dalam perdebatan ini, membuat putaran tersebut tidak dapat digunakan. Bendera merah akan menghentikan sesi sepenuhnya dan mencegah mobil lain melewati lokasi kecelakaan dalam kondisi kompetitif.
Carlos Sainz sebelumnya mengusulkan penalti turun tiga posisi bagi pembalap yang dengan sengaja menyebabkan bendera kuning atau merah dalam kualifikasi. Gagasan itu bertujuan menghilangkan kemungkinan keuntungan bagi pembalap yang lebih dahulu mencatat waktu tercepat sebelum menghentikan upaya para rival.
Verstappen menilai tindakan yang terbukti disengaja harus mendapatkan hukuman lebih berat. Namun, untuk insiden yang tidak disengaja, ia mengusulkan pendekatan berbeda dengan menghapus catatan waktu terbaik pembalap yang menyebabkan bendera kuning ganda atau merah.
“Ketika seseorang melakukannya dengan sengaja, hukumannya seharusnya lebih besar. Dalam kasus saya, apa yang terjadi berada di luar kendali saya,” jelas Verstappen.
Usulan tersebut masih menyisakan persoalan mengenai bagaimana FIA membedakan kesalahan pembalap, tindakan disengaja, dan kegagalan teknis. Penalti otomatis dapat meningkatkan keadilan kualifikasi, tetapi juga berpotensi menghukum pembalap yang tidak memiliki kendali atas penyebab insiden.
Verstappen karena itu memisahkan dua persoalan utama: Russell berhak mempertahankan pole karena mengikuti regulasi, tetapi pengendalian balapan seharusnya menggunakan respons keselamatan yang lebih kuat. Perdebatan di Silverstone kini dapat mendorong evaluasi terhadap prosedur bendera dan konsekuensi bagi pembalap yang menghentikan sesi kualifikasi.



Diskusi & Komentar (0)
Mari Bergabung dalam Diskusi!
Masuk dengan mudah untuk mulai memberikan komentar, membalas, dan berinteraksi dengan pembaca lainnya.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!