Maverick Vinales Terkejut dengan Kedekatannya bersama Jorge Lorenzo

© Red Bull Content Pool
© Red Bull Content Pool

MotoGP, Sportrik Media - Pembalap Tech3 KTM Maverick Vinales mengaku terkejut dengan kuatnya hubungan profesional yang ia bangun bersama Jorge Lorenzo, setelah keduanya sempat memiliki relasi yang tegang dan “tidak menyenangkan” ketika masih menjadi rival di lintasan MotoGP pada dekade 2010-an.

Vinales mengumumkan usai berakhirnya musim 2025 bahwa juara dunia MotoGP tiga kali Jorge Lorenzo akan berperan sebagai performance coach pribadinya. Keputusan tersebut langsung menarik perhatian paddock, mengingat sejarah rivalitas keduanya yang kerap diwarnai ketegangan dan pernyataan keras saat masih bersaing secara langsung di kelas premier.

Hubungan mereka sempat memanas ketika Vinales menggantikan Lorenzo di Yamaha pada musim 2017. Setahun sebelumnya, Lorenzo bahkan menuding Vinales—saat masih membela Suzuki—bekerja sama dengan Valentino Rossi untuk menghambatnya dalam sesi kualifikasi di Mugello. Ketegangan itu kembali mencuat pada 2019, setelah kecelakaan beruntun di Grand Prix Catalunya yang dipicu Lorenzo, di mana Vinales menudingnya melakukan terlalu banyak kesalahan “seperti rookie”.

Namun dinamika tersebut berubah drastis ketika keduanya kini bekerja dalam satu arah yang sama.

“Hubungannya luar biasa,” ujar Vinales dalam konferensi pers daring usai peluncuran KTM MotoGP 2026.

“Sejujurnya, kami sangat menikmatinya. Saya juga terkejut, karena saya mengenal Jorge yang berbeda di masa lalu. Dan kata-kata terakhir yang kami ucapkan dulu tidaklah baik.”

Selama jeda musim dingin, Lorenzo secara terbuka membagikan berbagai cuplikan latihan intensif bersama Vinales. Program tersebut menggabungkan latihan lintas disiplin dengan pekerjaan fisik di luar motor, dirancang untuk meningkatkan ketahanan, adaptasi teknis, serta konsistensi performa jangka panjang. Pendekatan ini mencerminkan filosofi Lorenzo yang menekankan detail dan disiplin tinggi, karakter yang kini justru diapresiasi Vinales.

Benih kerja sama ini sebenarnya telah muncul sejak Vinales meraih kemenangan di Grand Prix Amerika 2024 bersama Aprilia. Namun pada saat itu, waktu dan situasi belum memungkinkan. Titik balik justru datang pada 2025, ketika Vinales mengalami cedera bahu saat kualifikasi Grand Prix Jerman.

“Bagi saya itu sesuatu yang alami,” jelas Vinales ketika ditanya siapa yang lebih dulu memulai pendekatan.

“Setelah saya menang di Austin [2024], sempat ada pembicaraan. Tapi saat itu saya tidak bisa melakukannya di Aprilia. Setelah cedera, entah bagaimana saya merasa itu momen yang tepat.”

“Kami mulai berkomunikasi dan memulai proses ini. Semuanya tergantung bagaimana perkembangan bahu saya selama pemulihan. Tapi semuanya berjalan baik, jadi kami bisa bekerja sangat keras sejak awal.”

Vinales menegaskan bahwa kepindahannya dari Aprilia tidak ada kaitannya dengan hambatan terhadap peran Lorenzo sebagai pelatih. Menurutnya, faktor keluarga justru menjadi pertimbangan utama yang sempat menunda kerja sama tersebut.

“Sama sekali tidak. Aprilia tidak memblokir apa pun,” tegas Vinales.

“Ketika Anda menambahkan sosok seperti Jorge, itu selalu nilai tambah. Kami tahu dia punya banyak kualitas yang bisa saya manfaatkan.”

“Masalahnya adalah keluarga. Saya punya anak kecil pada 2024, jadi saya harus memberi perhatian penuh dan membantu istri saya. Di luar motor, saya punya kehidupan, dan kadang itu membuat segalanya lebih sulit.”

“Sekarang saya sudah jauh lebih percaya diri, anak-anak sudah lebih besar, jadi semuanya lebih mudah. Sekarang saya benar-benar bisa 24 jam untuk MotoGP.”

Dalam proses kerja sama ini, Vinales juga menyadari bahwa level performanya sebelumnya belum setinggi yang ia bayangkan. Menurutnya, Lorenzo mampu menggali potensi tambahan yang selama ini belum sepenuhnya ia manfaatkan, baik secara fisik maupun teknis.

Salah satu aspek penting dari pendekatan Lorenzo adalah memaksa Vinales untuk berlatih dalam segala kondisi, bahkan ketika secara mental ia tidak siap.

“Pada dasarnya kami bekerja, lalu menikmatinya, tapi sebagian besar kami bekerja,” kata Vinales.

“Musim dingin ini, Jorge memaksa saya turun di semua kondisi, bahkan saat saya tidak ingin keluar.”

“Saya ingat satu kali lintasan sangat basah, dan itu pertama kalinya saya naik motor di kondisi basah setelah cedera. Saya sebenarnya sudah siap pulang, tapi saya tetap turun.”

“Dia membuat saya tetap berkendara, dan saya pikir hal seperti ini membuka banyak potensi. Ini sangat penting. Saya rasa Jorge akan membawa intensitas yang saya butuhkan di luar motor MotoGP.”

Metode latihan favorit Lorenzo juga termasuk penggunaan motor 600cc di sirkuit sempit, sebuah pendekatan yang menurut Vinales sangat menantang secara teknis.

Menurutnya, motor 600cc dirancang untuk kecepatan tinggi, sehingga ketika digunakan untuk latihan teknis pada kecepatan rendah, kesulitan justru meningkat. Namun justru di situlah nilai latihan tersebut.

Pendekatan ini memungkinkan Vinales mengasah keterampilan mengontrol slide motor dan memaksimalkan penggunaan ban belakang—dua aspek krusial dalam MotoGP modern. Tujuan akhirnya bukan sekadar kecepatan mentah, melainkan penguasaan teknik yang bisa diterapkan di berbagai situasi balap.

Dengan dukungan Lorenzo dan struktur baru bersama KTM, Vinales kini memasuki musim 2026 dengan pendekatan yang lebih disiplin dan menyeluruh. Transformasi hubungan yang dulunya diwarnai konflik menjadi kemitraan profesional intensif ini menjadi salah satu cerita paling menarik di balik layar MotoGP menjelang musim baru.

Diskusi & Komentar (0)

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Live Commentary / Indonesia Live Komentar

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

TONTON SEKARANG