MotoGP, Sportrik Media - Juara dunia MotoGP 2025, Marc Marquez, membuka suara mengenai perseteruan panjangnya dengan Valentino Rossi melalui wawancara eksklusif. Pernyataannya menekankan prioritas pada hubungan yang memberikan nilai tambah, di tengah pencapaian gelar kesembilan secara keseluruhan yang menyamai rekor sang legenda Italia.
Pencapaian ini diraih Marquez bersama Ducati, yang membawanya meraih gelar kelima MotoGP dalam karier gemilangnya. Namun, cedera bahu kanan yang dialaminya sejak Grand Prix Indonesia memaksanya absen hingga akhir musim. Analisis lebih dalam mengungkap bagaimana konflik 2015 masih membayangi, meskipun Marquez kini lebih fokus pada pemulihan dan target gelar kesepuluh.
Dalam wawancara dengan El Larguero, Marquez menjawab pertanyaan tentang obsesi terhadap Rossi dengan nada tegas. “Rossi obsessed? Everyone sees things differently,” ujarnya. Selain itu, ia menambahkan bahwa kemenangan gelar kesepuluhnya tidak akan mengganggu Rossi. Pernyataan ini mencerminkan kematangan emosional sang pembalap berusia 32 tahun, yang kini memilih lingkaran dukungan strategis daripada drama masa lalu.
Marquez melanjutkan, “I’m not there looking back. If I win my 10th world championship, I don’t think he’ll worry. And, honestly, I don’t care. I’m focusing on those who bring me value.” Analisis ini menyoroti pergeseran pola pikir Marquez pasca-cedera, di mana ia menolak pertemuan formal dengan Rossi. “What if we met? No, we wouldn’t say hello. He doesn’t need me, and I don’t need him. But motorcycling, yes, needs both of us.” Kutipan ini tidak hanya menutup babak pribadi, tetapi juga mengakui kontribusi keduanya bagi olahraga roda dua.
Cedera bahu yang disebabkan tabrakan dengan Marco Bezzecchi dari Aprilia di Mandalika memerlukan operasi pada 13 Oktober 2025. Meski demikian, manajernya menyatakan pemulihan berjalan lancar, dengan Marquez tampil tanpa penyangga lengan di acara media Spanyol awal pekan ini. Prospeknya untuk tes pramusim di Malaysia Februari 2026 terlihat cerah, yang dapat memperkuat dominasi Ducati di bawah kepemimpinan Gigi Dall'Igna.
Dampak perseteruan ini terhadap MotoGP lebih luas, khususnya di kalangan penggemar. Bandingkan dengan rivalitas Jorge Lorenzo dan Rossi, di mana Marquez muncul sebagai katalisator perubahan. Kini, dengan gelar kesembilan, ia hanya selangkah dari melebihi rekor Rossi, yang terakhir juara pada 2009. Namun, fokus Marquez pada “nilai” menandakan era baru: kolaborasi daripada konfrontasi, meskipun rivalitas tetap menjadi bumbu kompetisi.
Secara keseluruhan, pernyataan Marquez memperkaya narasi MotoGP 2025, di mana pencapaian pribadi berpadu dengan dinamika tim. Dengan pemulihan yang positif, ia berpotensi mendominasi 2026, sementara olahraga ini terus membutuhkan ikon seperti dirinya dan Rossi. Pantau terus update di Sportrik.com.



Diskusi & Komentar (0)
Silakan login untuk ikut berdiskusi.
Komentar Terbaru
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!