Marc Marquez Dinilai Unggul dalam Race Craft

Marc Marquez
Marc Marquez © Michelin

MotoGP, Sportrik Media - Marc Marquez dinilai memiliki dua fondasi utama yang menjelaskan dominasinya di kelas premier MotoGP: kecerdasan membangun balapan dan pengelolaan ban yang presisi. Analisis tersebut disampaikan oleh Casey Stoner, mantan juara dunia yang posisinya di Repsol Honda digantikan Marquez pada 2013.

Stoner, yang mengamati seluruh karier Marquez dari luar lintasan sejak pensiun dini pada 2012, menilai keunggulan pembalap Spanyol itu bukan semata soal kecepatan mentah. Menurutnya, banyak rival terjebak dalam pola berpikir yang sama, terlalu fokus pada kecepatan satu lap tanpa memaksimalkan aspek race craft.

“Tidak ada yang meragukan bakat dan kecepatannya. Tetapi banyak pembalap tidak menggunakan kapasitas race craft mereka sepenuhnya. Di situlah Marc mengalahkan mereka,” ujar Stoner.

Ia bahkan menyebut Marquez pernah memiliki satu kelemahan besar di masa lalu yang jarang dimanfaatkan rival, karena banyak pembalap melihatnya sebagai “final boss” alih-alih menganalisis cara mengalahkannya secara strategis.

Marquez sendiri mengalami jeda enam tahun antara gelar 2019 dan 2025, periode terpanjang dalam sejarah MotoGP bagi seorang juara dunia yang kembali merebut titel. Cedera serius serta penurunan performa Honda memaksanya hengkang ke Gresini Racing sebelum akhirnya bergabung dengan tim pabrikan Ducati dan kembali kompetitif.

Menurut Stoner, periode sulit tersebut justru memperkaya kematangan mental Marquez. Ia menilai Marquez kini lebih sabar dan cerdas dibanding era 2010-an, ketika agresivitas dan keberanian mengambil risiko menjadi ciri khasnya.

ADVERTISEMENT

“Beberapa tahun terakhir yang sulit justru membangun level kekuatan mental, kecerdasan, dan kesabaran baru. Itulah yang saya rasa kurang dari banyak pembalap yang sekarang melawannya.”

Salah satu aspek paling menonjol adalah cara Marquez memperlakukan ban. Stoner mengamati pola konsisten sepanjang 2025: Marquez jarang memaksakan kecepatan di awal lomba, melainkan menyimpan performa untuk fase akhir ketika grip menurun.

“Tema yang sangat umum sepanjang musim lalu adalah betapa sabarnya dia dengan ban. Orang-orang tidak cukup memperhatikannya.”

Stoner membandingkan pendekatan itu dengan strategi manajemen ban di Formula 1, khususnya gaya Max Verstappen, yang kerap membangun stint secara progresif sebelum menyerang di akhir.

Selain itu, Stoner menyoroti kemampuan Marquez mengendarai motor tanpa terlalu bergantung pada elektronik. Ia menjelaskan bahwa sistem elektronik hanya bereaksi terhadap slip, sehingga pembalap yang mampu membaca grip lebih cepat dari intervensi elektronik akan memiliki keunggulan.

“Marc menjaga agar elektronik tidak bekerja terlalu keras di awal lomba. Dia sangat lembut terhadap ban, mengangkat motor lebih cepat di tikungan, dan mengurangi sliding. Ketika grip mulai turun dan elektronik lebih banyak berintervensi, kondisi bannya masih lebih baik daripada yang lain.”

Pendekatan tersebut, menurut Stoner, memungkinkan Marquez memiliki cadangan performa tambahan di fase akhir balapan. Ia menilai kecerdasan membaca ban dan memahami momen krusial balapan kini menjadi pembeda utama, bukan sekadar kecepatan absolut.

Dengan kombinasi race craft yang matang, manajemen ban presisi, dan pemahaman mendalam terhadap interaksi mekanis serta elektronik, Marquez dinilai memasuki fase kedua kariernya sebagai pembalap yang lebih strategis dan terukur — faktor yang kembali mengantarkannya ke puncak MotoGP.

Diskusi & Komentar (0)

Komentar Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Live Commentary / Indonesia Live Komentar

LIVE NOW

WRC 2026, Analisis & Rumor Hangat

TONTON SEKARANG
RECOMMENDED FOR YOU